Lampu padam di seluruh Ukraina: apa selanjutnya?

Jaringan listrik negara itu menghadapi krisis terburuk sejak perang dimulai. Pemadaman harian selama 12–16 jam kini menjadi hal biasa bagi jutaan warga.

By Jeykhun Ashirov
Listrik padam di seluruh Ukraina: apa selanjutnya? / TRT Russian

Lampu-lampu padam di seluruh Ukraina: apa selanjutnya?

Jaringan listrik Ukraina tengah mengalami krisis terparah sejak perang dimulai. Pemadaman harian selama 12 hingga 16 jam kini menjadi rutinitas bagi jutaan warga Ukraina.

Infrastruktur energi Ukraina berada dalam kondisi paling kritis sejak dimulainya invasi besar-besaran Rusia. Kepala operator jaringan listrik milik negara, Ukrenergo, Vitaliy Zaychenko, mengatakan dalam wawancara dengan Semafor bahwa kemungkinan terjadinya kolaps total disertai pemadaman nasional berkepanjangan tidak bisa dikesampingkan akibat serangan udara Rusia yang terus berlangsung.

Dalam beberapa pekan terakhir, Kyiv dan kota-kota lain mengalami pemadaman listrik setiap hari selama 12 jam atau lebih, bahkan dalam sejumlah kasus berlangsung beberapa hari berturut-turut. Warga ibu kota Ukraina kini bisa kehilangan listrik hingga 16 jam per hari.

Situasi kritis

“Kami, jika bukan berada di ambang pemadaman total di wilayah timur negara ini, maka sangat dekat ke arah itu,” kata seorang diplomat senior Eropa kepada The Washington Post, dengan syarat anonim karena sensitivitas isu tersebut.

Pasukan Rusia semakin memusatkan serangan pada sejumlah kecil stasiun transmisi yang menghubungkan wilayah timur Ukraina dengan pembangkit listrik tenaga nuklir di bagian barat. Setelah banyak pembangkit listrik tenaga batu bara besar dihancurkan, PLTN kini menjadi sumber utama pembangkit beban dasar listrik Ukraina.

“Tidak ada sistem pertahanan udara di dunia yang mampu melindungi dari jenis serangan seperti ini,” kata Zaychenko, merujuk pada serangan terhadap gardu-gardu listrik yang kerap melibatkan puluhan drone serta rudal balistik atau jelajah secara bersamaan.

Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov menyatakan dalam rapat dewan kementerian bahwa lebih dari 70 persen pembangkit listrik tenaga termal dan lebih dari 37 persen pembangkit listrik tenaga air di Ukraina tidak lagi beroperasi. “Kapasitas energi Ukraina telah berkurang lebih dari setengahnya,” ujarnya.

Hidup dalam kegelapan

CEO DTEK, perusahaan energi swasta terbesar di Ukraina yang memasok listrik bagi 5,6 juta warga, Maksym Timchenko, mengatakan kepada BBC bahwa perusahaannya berada dalam kondisi krisis yang nyaris konstan akibat serangan Rusia ke jaringan listrik. Intensitas serangan yang tinggi membuat “kami nyaris tidak punya waktu untuk pulih”.

“Saya tidak ingat satu hari pun tanpa laporan kerusakan pada jaringan kami,” kata Timchenko.

Tatyana, warga Kyiv, mengatakan hal pertama yang ia lakukan setiap pagi adalah memeriksa ponsel untuk melihat jadwal pemadaman listrik hari itu. Seperti banyak warga lain, ia membeli power bank agar aktivitas sehari-hari lebih tertahankan. “Kita harus ingat mengecas power bank sebelum keluar rumah supaya saat pulang tetap ada daya,” ujarnya.

Puluhan ribu warga Odesa sempat tanpa listrik selama tiga hari pekan ini setelah serangan terkoordinasi Rusia. Yana, warga kota tersebut yang masih beruntung mendapat aliran listrik, mengundang teman-temannya ke rumah untuk mengisi daya ponsel. Pemadaman juga memutus pasokan pemanas dan air bersih.

Perlindungan dan pemulihan

Meski situasinya suram, jaringan listrik Ukraina kini lebih terlindungi dibandingkan Oktober 2022, ketika serangan besar pertama terhadap sistem energi dimulai.

Saat itu, sistem rudal pertahanan udara nyaris tidak tersedia. Kini, meski jumlahnya masih jauh di bawah kebutuhan militer Ukraina, sistem pertahanan udara terbukti efektif di wilayah tempatnya dikerahkan. Sebagian besar transformator Ukrenergo—perangkat raksasa yang menyalurkan listrik ke seluruh jaringan—kini dilindungi struktur beton tebal yang terbukti tangguh terhadap serangan.

Zaychenko menjelaskan bahwa dalam satu serangan baru-baru ini di dekat Odesa, sebuah struktur pelindung transformator dihantam dua rudal dari arah berlawanan namun tetap bertahan. Biasanya, perusahaan hanya perlu mengganti peralatan kecil yang terhubung ke transformator, bukan transformatornya sendiri.

Ukraina juga kini memiliki sumber energi yang lebih terdesentralisasi dibandingkan 2022. Ini mencakup tambahan kapasitas energi angin dan surya beberapa gigawatt, sistem penyimpanan energi, sekitar satu gigawatt turbin gas berukuran menengah, serta ribuan generator diesel yang tersebar di berbagai lokasi. Yang penting, fasilitas-fasilitas ini tidak tercantum dalam peta era Soviet yang dimiliki Moskow.

Prospek ke depan

Lonjakan signifikan serangan terhadap jaringan listrik dinilai kecil kemungkinannya dalam waktu dekat. Rusia hampir tidak memiliki target baru selain menyerang langsung pembangkit listrik tenaga nuklir—langkah yang berisiko memicu bencana nuklir global dan menggagalkan upaya perundingan damai.

“Saya yakin mereka sudah berada pada tingkat serangan paling intens yang mampu mereka pertahankan,” kata Alexander Kharchenko, direktur pelaksana Center for Energy Research, lembaga riset berbasis di Kyiv. “Jadi saya tidak melihat kiamat akan terjadi kecuali kita benar-benar kehabisan rudal pertahanan udara.”

Salah satu opsi yang diusulkan Kyiv adalah gencatan senjata energi, di mana Rusia menghentikan serangan ke infrastruktur energi Ukraina dan Ukraina menghentikan serangan jarak jauh ke fasilitas minyak dan gas Rusia. Namun, pekan lalu Moskow menyatakan belum siap mempertimbangkan langkah tersebut. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia mengupayakan “perdamaian, bukan gencatan senjata”.

Pada Kamis, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan kepada wartawan bahwa ia “siap” untuk gencatan senjata energi. “Pertama-tama, Rusia menargetkan sektor energi kami dan kami merespons secara adil. Jika Rusia siap untuk gencatan senjata energi, kami selalu menegaskan kesiapan itu. Ini sangat penting bagi rakyat,” ujarnya.

Tantangan jangka panjang

Menurut Zaychenko, salah satu alasan utama pemadaman listrik masih sering terjadi adalah karena sebagian besar bendungan pembangkit listrik tenaga air telah hancur atau berada di wilayah pendudukan. Sebelum perang, bendungan-bendungan ini digunakan bersama PLTN untuk menyesuaikan pasokan listrik dengan cepat sesuai permintaan. Kini, meski PLTN masih beroperasi, satu-satunya cara menyeimbangkan jaringan adalah dengan menekan permintaan, bukan menambah pasokan.

Penilaian kerusakan Bank Dunia memperkirakan kebutuhan pemulihan sektor energi Ukraina per Desember 2024 mencapai US$67,78 miliar, dengan nilai kerusakan sebesar US$20,51 miliar. Sebagian besar dana tersebut dibutuhkan untuk modernisasi dan dekarbonisasi pembangkit listrik.

Ancaman serius lain terhadap sistem energi Ukraina—yang mungkin lebih sulit dikendalikan—datang dari dalam negeri, yakni korupsi. Menteri energi saat ini dan sebelumnya, bersama sejumlah pejabat tinggi lainnya, baru-baru ini diberhentikan. Mereka dituduh mengatur skema suap agar perusahaan memperoleh pembayaran dalam kontrak energi. Dugaan ini diyakini baru sebagian kecil dari masalah yang ada.

Zaychenko, yang menggantikan pendahulunya Vladimir Kudritsky yang dicopot di tengah tuduhan penipuan, mengatakan Ukrenergo berupaya “membangun penghalang baru untuk melindungi perusahaan dari persoalan-persoalan ini”. “Kami paham tanpa transparansi, para mitra tidak akan mempercayai kami,” ujarnya.