DUNIA
2 menit membaca
Peluang besar UMKM lokal, Kemenhaj bidik pasar rantai pasok haji di Arab Saudi
Pemerintah menggelar Business Matching 2026 guna menjalin kemitraan strategis dengan Arab Saudi. Langkah ini ditujukan untuk memperluas penetrasi komoditas pangan nasional dalam ekosistem katering jemaah haji dan umrah.
Peluang besar UMKM lokal, Kemenhaj bidik pasar rantai pasok haji di Arab Saudi
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi. Foto: Kemenhaj

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melangkah agresif untuk mendorong produk pangan asal Indonesia menembus pasar Arab Saudi. Melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (Ditjen PE2HU), pemerintah berupaya membangun rantai pasok (supply chain) haji dan umrah yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut diwujudkan dalam ajang Business Matching Indonesia–Saudi Arabia Partnership Forum 2026 bertema “Building Strategic Partnership for a Sustainable Pilgrim Supply Chain” yang berlangsung di Jakarta, Senin (3/8).

Direktur Jenderal PE2HU, Jaenal Effendi, menekankan bahwa forum bisnis ini menjadi jembatan strategis yang menghubungkan pelaku usaha, eksportir, UMKM, dan asosiasi industri dalam negeri dengan para mitra dari Arab Saudi.

"Forum ini bukan sekadar mempertemukan pelaku usaha, tetapi menjadi titik awal membangun ekosistem yang solid sehingga produsen, UMKM, dan eksportir Indonesia dapat memasuki pasar Arab Saudi secara terstruktur dan berkelanjutan. Di sinilah fondasi rantai pasok haji yang kuat mulai dibangun," ujar Jaenal dalam keterangannya.

Selama ini, kebutuhan katering jamaah kerap diidentikkan hanya pada bumbu olahan dan makanan siap saji (ready to eat). Padahal, skala kebutuhan konsumsi jemaah mencakup bahan pangan pokok segar dalam jumlah sangat besar, seperti beras, daging, ikan, sayuran, hingga produk olahan susu.

Besarnya potensi pasar tersebut menjadi peluang emas bagi sektor pertanian, peternakan, perikanan, serta industri pangan olahan nasional.

Guna memastikan pasokan berjalan konsisten dan memenuhi regulasi di Arab Saudi, Ditjen PE2HU mendorong pembentukan konsorsium ekspor yang dikelola eksportir berpengalaman. Langkah pendukung lainnya meliputi harmonisasi standar halal, pembangunan pusat logistik terpadu, hingga pembentukan Koridor Makanan Haji Indonesia.

"Kami ingin membangun ekosistem ekonomi haji yang inklusif sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh petani, peternak, nelayan, UMKM, hingga pelaku industri nasional. Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen sekaligus pemasok utama kebutuhan haji dan umrah dunia," tegas Jaenal.

Melalui sinergi ini, Kemenhaj optimistis Indonesia dapat meningkatkan peran geopolitik dan ekonominya di kawasan Timur Tengah, sekaligus memperkokoh rantai pasok kebutuhan jemaah secara jangka panjang.

TerkaitTRT Indonesia - Pemulangan 3.479 jemaah haji gelombang pertama dimulai, imigrasi siapkan layanan corridor gate
SUMBER:TRT Indonesia