Filipina mendorong percepatan pembangunan jaringan listrik lintas negara yang menghubungkan Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Inisiatif ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi kawasan di tengah gangguan pasokan akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Menteri Energi Filipina Sharon Garin menyampaikan rencana tersebut dalam Pertemuan ke-44 Menteri Energi ASEAN di Manila pada Rabu (7/10), menurut Badan Informasi Filipina (PIA).
Proyek interkoneksi itu dirancang untuk menghubungkan sistem kelistrikan keempat negara melalui kabel bawah laut bertegangan tinggi. Infrastruktur tersebut nantinya memungkinkan perdagangan listrik lintas batas sehingga negara-negara yang terhubung dapat saling memasok energi.
Garin menyebut proyek tersebut sebagai jalur utama bagi Filipina untuk terhubung dengan rencana Jaringan Listrik ASEAN atau ASEAN Power Grid. Inisiatif itu juga akan melengkapi skema perdagangan listrik yang telah berjalan antara Laos, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
“Setiap interkoneksi membawa kita semakin dekat pada saat tenaga air dari pegunungan negara tetangga dapat menerangi rumah sakit di seberang perbatasan,” ujar Garin.
Sementara itu, Menteri Energi Singapura Tan See Leng menyoroti pentingnya penyelarasan regulasi antarnegara untuk mendukung pembangunan jaringan kabel bawah laut. Aturan bersama diperlukan, antara lain, untuk mengatur pemasangan dan pemeliharaan kabel serta melindungi infrastruktur tersebut.
Pertemuan di Manila itu dihadiri para menteri energi dari 11 negara anggota ASEAN. Agenda pembahasan mencakup penguatan konektivitas listrik regional, ketahanan pasokan energi, serta skema pembiayaan bagi pembangunan infrastruktur.
Dorongan untuk mempercepat integrasi listrik muncul ketika negara-negara Asia Tenggara menghadapi risiko gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah. Filipina sebelumnya menjadi negara pertama yang menetapkan keadaan darurat energi nasional menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta penutupan Selat Hormuz pada Februari.
Menurut Pusat Energi ASEAN, lebih dari 50 persen impor minyak mentah negara-negara anggota blok tersebut berasal dari Timur Tengah. Gangguan pasokan dari kawasan itu berpotensi mengancam volume minyak yang setara dengan hampir 28 persen konsumsi minyak di Asia Tenggara.
Kondisi tersebut mendorong negara-negara kawasan untuk memperkuat kerja sama energi, termasuk melalui pengembangan jaringan listrik regional guna meningkatkan konektivitas dan mendukung ketahanan pasokan dalam jangka panjang.

















