BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Indonesia mulai pengembangan 93 proyek hidrogen senilai Rp32 triliun
Pengembangan hidrogen menjadi bagian dari program dedieselization atau pengurangan penggunaan pembangkit berbahan bakar diesel, terutama di wilayah terpencil.
Indonesia mulai pengembangan 93 proyek hidrogen senilai Rp32 triliun
PLTP Kamojang jadi pembangkit geothermal pertama produksi hidrogen hijau di Asia Tenggara. / Dok. PLN Indonesia Power

Pemerintah Indonesia menyiapkan 93 proyek pengembangan ekosistem hidrogen di berbagai wilayah sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi dan mendorong investasi di sektor energi baru terbarukan (EBT).

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi mengatakan seluruh proyek tersebut memiliki nilai investasi sekitar Rp32 triliun atau setara dengan sekitar $2 miliar. Pemerintah akan mengawal pelaksanaan proyek-proyek tersebut untuk memastikan percepatan pengembangannya.

Eniya menyampaikan hal itu dalam pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition 2026 di Jakarta, pada Selasa (21/7). Menurutnya, pengembangan hidrogen menjadi bagian dari program dedieselization atau pengurangan penggunaan pembangkit berbahan bakar diesel, terutama di wilayah terpencil.

Salah satu proyek pengurangan penggunaan diesel ditargetkan mulai beroperasi di Sumba, Nusa Tenggara Timur, pada 2028. Selain itu, proyek percontohan di Pulau Rengit, Kepulauan Seribu, yang bekerja sama dengan PT PLN, menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya dengan teknologi penyimpanan energi berbasis hidrogen.

Di sektor panas bumi, perusahaan energi milik negara PT Pertamina juga telah memulai inisiatif produksi hidrogen hijau dengan memanfaatkan energi panas bumi di wilayah Ulubelu, Tanggamus, Lampung.

Dalam forum yang sama, pemerintah juga meluncurkan program uji coba Hydrogen-Diesel Dual Fuel (H2 DDF) Bus Pilot bersama operator transportasi milik negara Perum DAMRI. Program tersebut memodifikasi kendaraan berbahan bakar diesel agar dapat menggunakan campuran diesel dan hidrogen sebagai langkah awal pengembangan transportasi rendah karbon.

Teknologi ini ditujukan untuk mengurangi konsumsi diesel, menekan emisi gas buang, memperkuat ekosistem transportasi berbasis hidrogen, serta membuka peluang komersialisasi kendaraan berbahan bakar hidrogen di masa depan.

Eniya mengatakan pemanfaatan teknologi hidrogen tidak hanya akan diterapkan pada bus, tetapi juga berpotensi dikembangkan untuk kendaraan penumpang, drone, forklift, hingga kompor berbahan bakar gas hidrogen.

SUMBER:TRT Indonesia & Agensi
Jelajahi
Indonesia bidik $1 miliar dari penerbitan Panda Bond perdana di China minggu ini
Indonesia batasi produksi nikel untuk jaga stabilitas harga global
Indonesia dan Cili tingkatkan kemitraan ekonomi, fokus optimalisasi IC-CEPA
Indonesia tawarkan proyek PLTS 100 GW kepada investor China
RUU hak cipta baru Indonesia ancam cabut izin Google dan platform AI
Bank Indonesia pastikan likuiditas perbankan tetap aman, tekanan pasar uang mereda
Indonesia resmi mulai pembangunan proyek LNG Abadi Masela senilai $21 miliar
Presiden Prabowo dijadwalkan resmikan groundbreaking Blok Masela hari ini
Prabowo tetapkan harga solar nelayan Rp15.000 per liter
Menko Airlangga: Pemerintah perkuat upaya stabilkan inflasi dari pangan dan biaya produksi
Redam dampak konflik global, Presiden Prabowo tetapkan harga khusus BBM bagi nelayan
Menkeu Purbaya pastikan tidak ada kenaikan tarif pajak dalam jangka menengah
S&P pertahankan rating utang RI di tengah bayang-bayang pelemahan rupiah
Kemenperin amankan 13 MoU strategis di INNOPROM 2026
Alamtri Indonesia mulai ekspor aluminium ke AS dan Korsel, targetkan penjualan 350.000 ton
WTO tolak sebagian besar gugatan Indonesia atas bea masuk Uni Eropa untuk asam lemak
Indonesia bidik investasi hingga Rp500 triliun lewat pusat keuangan internasional
Indonesia perkuat sinergi ekonomi dengan Selangor Malaysia, bidik sektor bernilai tinggi
Pertamina dan Boeing jajaki pengembangan bahan bakar pesawat berkelanjutan di Indonesia
Redam gejolak global, belanja subsidi energi Indonesia melonjak 44 persen di semester I-2026