Atlet transgender perempuan akan dilarang ikut seluruh cabang Olimpiade putri usai ‘tinjauan ilmiah’
Kebijakan baru akan mengakhiri pedoman yang selama ini mengizinkan atlet transgender bertanding dengan kadar testosteron rendah, dengan alasan “perlindungan kategori perempuan.”
Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee atau IOC) dikabarkan akan melarang atlet transgender perempuan berkompetisi di semua cabang olahraga kategori putri setelah melakukan “tinjauan ilmiah” tentang keunggulan fisik yang terkait dengan masa pubertas laki-laki, menurut laporan The Times.
Mengutip media asal Inggris itu pada Senin, kebijakan baru yang diperkirakan diumumkan awal tahun depan di bawah kepemimpinan Presiden IOC Kirsty Coventry ini didasarkan pada temuan bahwa keunggulan fisik dari tubuh laki-laki “tetap ada bahkan setelah penurunan kadar testosteron.”
Tinjauan ilmiah tersebut disampaikan pekan lalu di Lausanne, Swiss, oleh Dr. Jane Thornton — dokter spesialis kedokteran olahraga asal Kanada yang juga direktur medis dan ilmiah IOC serta mantan atlet dayung Olimpiade.
“Presentasinya sangat ilmiah, faktual, dan tidak emosional, dengan bukti yang disampaikan secara jelas,” kata seorang sumber yang mengikuti pertemuan itu kepada The Times, seraya menambahkan bahwa tanggapan dari anggota IOC “sangat positif.”
Aturan baru ini akan menggantikan pedoman IOC sebelumnya yang memperbolehkan atlet transgender berkompetisi jika kadar testosteron mereka diturunkan, kebijakan yang sebelumnya menyerahkan keputusan kelayakan kepada masing-masing cabang olahraga.
Coventry, mantan perenang Olimpiade asal Zimbabwe yang mulai menjabat tahun ini, mengatakan pendekatan komite bertujuan untuk “menekankan perlindungan terhadap kategori perempuan” sambil mempertahankan “pendekatan ilmiah” bersama federasi olahraga internasional.
Olimpiade di tengah kontroversi
Perdebatan mengenai kelayakan atlet transgender telah menjadi sorotan dalam sejumlah ajang Olimpiade terakhir. Pada Olimpiade Paris 2024, petinju Italia Angela Carini menghentikan pertandingannya setelah 46 detik melawan petinju Aljazair Imane Khelif, yang sebelumnya didiskualifikasi dari kejuaraan dunia tinju putri karena gagal dalam tes kelayakan gender.
Carini mengaku takut akan keselamatannya setelah menerima pukulan keras dan menangis usai pertandingan, sementara Khelif bersikeras ia bertanding “demi emas.” IOC memastikan bahwa baik Khelif maupun atlet Taiwan Lin Yu-Ting telah mematuhi peraturan pendaftaran, meski keduanya sempat terlibat sengketa kelayakan sebelumnya.
Kebijakan baru ini juga diperkirakan akan mencakup atlet dengan perbedaan perkembangan seksual (differences of sexual development atau DSD), menyusul perdebatan seputar Khelif dan Lin Yu-Ting, yang sama-sama meraih medali emas di Olimpiade Paris 2024 meski sempat dipertanyakan kelayakannya.
Kontroversi serupa juga terjadi di cabang olahraga lain. World Aquatics dan World Athletics telah lebih dulu melarang atlet transgender perempuan berkompetisi di kategori putri. Sementara itu, pada Februari lalu, mantan Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang atlet transgender perempuan bertanding di tingkat sekolah dan universitas di Amerika, serta mengancam akan menolak visa bagi atlet transgender yang berencana tampil di Olimpiade 2028.
Sejauh ini, hanya satu atlet transgender perempuan yang pernah tampil di Olimpiade — atlet angkat besi asal Selandia Baru Laurel Hubbard — yang gagal mencatatkan angkatan sah di Olimpiade Tokyo 2020.
Pengumuman resmi kebijakan baru IOC ini diperkirakan akan dilakukan paling cepat pada Februari mendatang, dalam sesi IOC menjelang Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina, setelah proses tinjauan hukum terhadap aturan tersebut rampung.