Harga minyak melesat tinggi didorong kekhawatiran akan blokade berkepanjangan di Selat Hormuz, sementara bursa saham justru merosot karena investor mengambil sikap hati-hati menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve AS dan rilis laporan laba sejumlah perusahaan teknologi.
Kedua kontrak utama minyak melonjak sekitar lima persen pada hari Rabu menyusul laporan Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat tengah mempersiapkan blokade jangka panjang terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Para analis memperingatkan bahwa langkah tersebut akan memicu Iran untuk mempertahankan blokadenya sendiri di Selat Hormuz, yang berpotensi membuat rute pengiriman minyak vital tersebut berada dalam kondisi nyaris lumpuh.
Jaringan berita milik pemerintah Iran, Press TV, pada hari Rabu mengutip seorang "sumber keamanan tingkat tinggi" yang tidak disebutkan namanya, menyatakan bahwa jika AS mempertahankan blokade terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran, hal itu akan memancing "tindakan militer praktis yang belum pernah terjadi sebelumnya" sebagai balasan.
Jaringan tersebut menambahkan bahwa "kesabaran pemimpin Iran ada batasnya" dan jika blokade terus berlanjut, maka "respons hukuman sangat diperlukan."
"Semakin lama konflik ini bertahan dan gangguan di Selat Hormuz berlanjut, tekanan inflasi kemungkinan besar akan menjadi semakin nyata," ujar Anna Macdonald, Direktur Strategi Investasi di Hargreaves Lansdown.
Patokan internasional minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik menjadi 117 dolar AS per barel, level tertinggi sejak gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran mulai berlaku.
Di sisi lain, nilai tukar dolar AS bergerak menguat terhadap mata uang utama lainnya.
"Pasar semakin beralih pada pandangan yang tidak lagi mengharapkan perdamaian cepat dan abadi, maupun pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat," kata Arne Lohmann Rasmussen, Kepala Analis di Global Risk Management.
Keputusan suku bunga The Fed
Sementara itu, Federal Reserve AS diperkirakan luas akan mempertahankan suku bunga tetap pada hari ini, dengan pasar yang memantau ketat panduan mengenai inflasi di tengah melambungnya biaya energi.
Dengan perundingan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah yang tampak menemui jalan buntu, perhatian investor kini beralih ke pembaruan laporan laba perusahaan.
Indeks saham utama di Wall Street pun dibuka memerah pada awal perdagangan di New York.
"Seperti halnya pasar keuangan lainnya, investor tampaknya memilih untuk menunggu dan melihat menjelang pengumuman kebijakan moneter dari FOMC Federal Reserve malam ini, serta saat empat anggota 'Magnificent Seven' bersiap merilis laporan laba terbaru mereka setelah penutupan pasar," kata David Morrison, Analis Pasar Senior di Trade Nation.
Investor akan memberikan perhatian khusus pada belanja kecerdasan buatan (AI) oleh Amazon, Google, Meta, dan Microsoft—serta apakah investasi tersebut sudah mulai menghasilkan pendapatan.
"Mengingat bobot besar perusahaan-perusahaan ini dalam indeks, serta belanja modal besar yang mereka umumkan untuk membangun kemampuan AI, hasil ini akan dipantau dengan sangat teliti oleh investor," tambah Macdonald dari Hargreaves Lansdown.
Saham teknologi sempat terpukul pada hari Selasa menyusul laporan di Wall Street Journal bahwa OpenAI, pembuat ChatGPT, gagal mencapai target jumlah pengguna dan pendapatan.
Pasar saham di London, Paris, dan Frankfurt seluruhnya melemah pada perdagangan sore, meskipun beberapa perusahaan besar sempat melonjak berkat laporan laba yang kuat.
Saham raksasa perbankan Swiss, UBS, melonjak lebih dari empat persen karena laba bersihnya naik 80 persen pada kuartal pertama, melampaui ekspektasi pasar.
Pertumbuhan laba kuartalan yang kuat juga memicu saham raksasa perlengkapan olahraga Jerman, Adidas, melonjak sembilan persen di Frankfurt.
Setelah pembukaan yang lemah dari Wall Street, bursa saham Asia sebagian besar justru menguat pada hari Rabu, dengan Hong Kong naik lebih dari satu persen.













