Turkiye tidak akan mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina, demikian disampaikan pejabat Kementerian Pertahanan pada Kamis (21/8). Pernyataan ini menepis spekulasi mengenai kemungkinan peran Ankara dalam jaminan keamanan pascaperang.
“Terkait klaim bahwa Turkiye akan mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina, tidak tepat jika membuat penilaian berdasarkan proyeksi yang belum memiliki dasar konkret,” kata pejabat kementerian kepada wartawan dalam konferensi pers mingguan.
Mereka menegaskan bahwa Turkiye mendukung semua inisiatif tulus untuk mengakhiri konflik, namun memperingatkan agar tidak membuat asumsi prematur. “Turkiye adalah bangsa yang menjunjung perdamaian dan stabilitas di kawasannya serta berkontribusi aktif pada setiap upaya untuk mencapai tujuan tersebut,” tambah mereka.
“Namun, antara Rusia dan Ukraina, terlebih dahulu harus dicapai gencatan senjata. Setelah itu, kerangka misi dengan mandat yang jelas perlu ditentukan, termasuk besaran kontribusi dari masing-masing negara,” lanjut pernyataan tersebut.
Kunjungan teknis untuk kebutuhan pertahanan Suriah
Dalam kesempatan yang sama, kementerian juga mengumumkan rencana kunjungan teknis ke Suriah untuk menilai kebutuhan pertahanan dan menyusun peta jalan bersama dengan Damaskus.
Nota Kesepahaman tentang Pelatihan dan Konsultasi Bersama yang ditandatangani pada 13 Agustus bertujuan memperkuat kapasitas pertahanan Suriah melalui pelatihan, konsultasi, dan dukungan teknis, sekaligus mendorong restrukturisasi Angkatan Bersenjata Suriah.
Kerja sama telah berjalan, termasuk kunjungan Kepala Departemen Pelatihan Suriah ke Universitas Pertahanan Nasional Turkiye serta kegiatan pelatihan lanjutan atas permintaan Damaskus.
Turkiye memandang stabilitas Suriah sebagai hal yang “krusial bagi perdamaian kawasan”, dengan menekankan dukungan pada prinsip “Satu Negara, Satu Tentara”.
Dialog pertahanan Turkiye–Jepang
Secara terpisah, Menteri Pertahanan Turkiye Yasar Guler bertemu dengan Menteri Pertahanan Jepang, Gen Nakatani, di Ankara pekan ini.
Pembahasan berfokus pada penguatan kerja sama pertahanan bilateral, stabilitas kawasan, serta perluasan kemitraan industri pertahanan.
Kementerian menyebut pertemuan berlangsung dalam suasana “tulus dan konstruktif”. Persahabatan antara Turkiye dan Jepang—“yang berakar pada ikatan sejarah dan saling menghormati”—diharapkan dapat memperdalam hubungan militer sekaligus membuka peluang kerja sama baru.















