Tidak perlu panic buying, pemerintah RI pastikan pasokan BBM aman di tengah eskalasi Timur Tengah

Pemerintah Indonesia menyerukan agar masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan, memastikan pasokan BBM tetap aman meski ketegangan jalur Selat Hormuz di Timur Tengah meningkat.

By
Truk-truk tangki milik BUMN Pertamina mengangkut pasokan BBM. (Foto: Arsip Reuters)

Pemerintah Indonesia memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional tetap aman meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat, termasuk dampak dari penutupan Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu jalur utama perdagangan minyak dunia.

Juru bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia mengatakan stok BBM nasional saat ini berada pada tingkat yang aman karena pasokan terus diperbarui melalui produksi dalam negeri maupun impor.

“Namun, masyarakat jangan mengartikan bahwa cadangan BBM di dalam negeri dalam kondisi aman 21 atau 23 hari kebutuhan, maka setelah itu akan habis. Pasokan BBM terus berjalan, baik dari impor maupun produksi dalam negeri,” kata Dwi dikutip dari wawancaranya dengan RRI Pro 3, Jumat (6/3).

Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak perlu melakukan panic buying. Ia meminta masyarakat untuk mengandalkan informasi resmi pemerintah dan tidak melakukan pembelian berlebihan.

Kepanikan masyarakat datang karena sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan kapasitas cadangan BBM Indonesia saat ini berkisar antara 20 hingga 25 hari.

Diversifikasi sumber impor minyak

Pemerintah menegaskan tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar meski harga minyak global berpotensi terdampak konflik di Timur Tengah.

Pemerintah juga menjamin pasokan energi tetap mencukupi selama Ramadan hingga Idul Fitri 2026, termasuk untuk BBM dan liquefied petroleum gas (LPG).

Pada minggu ini, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan jajarannya untuk memperluas fasilitas penyimpanan energi dengan target meningkatkan cadangan minyak mentah hingga mampu memenuhi kebutuhan nasional selama 90 hari atau sekitar tiga bulan.

Sebagai bagian dari strategi penguatan cadangan tersebut dengan pembangunan fasilitas penyimpanan baru, dengan Sumatera menjadi salah satu lokasi yang dinilai potensial.

Selain itu, pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah. 

Sekitar 25 persen impor yang sebelumnya bergantung pada pasokan Timur Tengah kini dialihkan ke sejumlah negara lain, termasuk ASt, guna mengantisipasi gangguan distribusi akibat situasi di Selat Hormuz.

Langkah ini diharapkan dapat menjaga pasokan minyak mentah bagi kilang domestik tetap stabil, sekaligus memastikan ketersediaan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.