Lebih dari 100 sekolah di Negeri Sarawak, Malaysia, terpaksa ditutup akibat pekatnya paparan kabut asap yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Indonesia. Dampak sebaran asap ini juga mulai menyelimuti wilayah ibu kota Kuala Lumpur dan memperburuk kualitas udara di berbagai daerah.
Kantor berita nasional Malaysia, Bernama, mengutip Komite Manajemen Bencana Negeri Sarawak, melaporkan bahwa sedikitnya 108 sekolah di Distrik Serian, Sarawak, dihentikan sementara aktivitas belajar-mengajarnya setelah kualitas udara memburuk hingga menyentuh level tidak sehat.
Kualitas udara memburuk dan puluhan sekolah ditutup
Berdasarkan data Departemen Lingkungan Hidup Malaysia, Indeks Pencemar Udara (IPU) di Distrik Serian mencatatkan angka 198. Angka tersebut berada di ambang atas kategori "tidak sehat" (skala 101–200). Selain Serian, tujuh wilayah lain di Sarawak yang berbatasan langsung dengan wilayah Kalimantan, Indonesia, turut mencatatkan indeks kualitas udara yang buruk.
Sementara itu, laporan Anadolu Agency menunjukkan kepulan asap karhutla juga telah sampai ke Kuala Lumpur pada Rabu. Jarak pandang di sejumlah titik ikonik kota, seperti Menara KL Tower dan kawasan Bukit Tunku, tampak menurun signifikan akibat tertutup kabut tebal.
Menanggapi kondisi ini, Kementerian Kesehatan Malaysia mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan jika indeks pencemaran melebihi angka 100, serta mengimbau warga segera berobat jika mengalami gangguan pernapasan. Pihak kementerian juga meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan, stok obat-obatan, dan tenaga medis.
Langkah penanganan karhutla di Indonesia
Dampak kabut asap lintas batas (cross-border haze) ini kembali menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Berbagai upaya penanggulangan karhutla terus ditingkatkan di titik-titik hotspot, termasuk pemadaman darat oleh satgas gabungan serta operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) menggunakan pesawat penyemai awan untuk memancing hujan buatan di wilayah terdampak.
Isu tahunan ini mempertegas pentingnya percepatan penanganan karhutla di kawasan Sumatera dan Kalimantan guna mencegah dampak kesehatan, ekonomi, serta hubungan luar negeri antarnegara tetangga di Asia Tenggara.


























