Status tanggap darurat diperpanjang, tim SAR temukan 53 korban longsor Cisarua

Kondisi tanah yang labil serta medan yang sulit memaksa tim SAR mengerahkan puluhan alat berat dan anjing pelacak untuk memperluas area pencarian.

By
Anggota tim penyelamat mencari korban di lokasi longsor yang terjadi setelah hujan deras di Desa Pasir Langu, Kab. Bandung Barat. / Reuters

Jumlah korban meninggal akibat longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, terus meningkat. Hingga hari kelima operasi pencarian, tim gabungan telah menemukan 53 korban jiwa, sementara 27 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Informasi tersebut disampaikan otoritas pencarian dan penyelamatan Indonesia pada Rabu, seiring berlanjutnya operasi SAR di tengah kondisi cuaca yang masih hujan.

Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, mengatakan dua korban tambahan berhasil ditemukan pada hari kelima pencarian dan langsung diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Daerah Jawa Barat.

“Per pukul 16.00 WIB, total 53 kantong jenazah telah dievakuasi, dan tim DVI telah mengidentifikasi 38 korban,” ujar Ade Dian.

Ade Dian menjelaskan bahwa seluruh korban yang ditemukan pada hari kelima berasal dari sektor A2, lokasi yang menjadi fokus utama pencarian sejak awal operasi. Total korban meninggal yang telah ditemukan, 37 orang telah teridentifikasi, sementara 16 jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi oleh tim DVI Polri.

Operasi pencarian diperpanjang 

Pemerintah menetapkan status tanggap darurat bencana, yang memungkinkan operasi pencarian dan penyelamatan dilanjutkan hingga 14 hari, dengan evaluasi dilakukan pada hari ketujuh.

Hujan berintensitas tinggi wilayah Cisarua dan sekitarnya sejak pagi hari menjadi tantangan utama bagi tim di lapangan. Kondisi tanah yang labil serta medan yang sulit memaksa tim SAR mengerahkan puluhan alat berat dan anjing pelacak untuk memperluas area pencarian.

Sebagian personel juga dialihkan dari sektor A2 ke sektor B2, menyusul hasil evaluasi lapangan yang menunjukkan potensi keberadaan korban di wilayah tersebut.

Selain warga sipil, bencana ini juga menimpa personel militer. Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia, Muhammad Ali, sebelumnya menyatakan bahwa 23 prajurit TNI AL tertimbun longsor saat menjalani latihan di kawasan tersebut. Dari jumlah itu, empat orang telah dipastikan meninggal, sementara 19 lainnya masih dinyatakan hilang.

Hingga kini, operasi pencarian masih terus dilakukan di wilayah terdampak yang dikenal memiliki kontur curam dan akses terbatas, sementara otoritas mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi longsor susulan akibat curah hujan yang masih tinggi.