Iran respons tawaran mediasi Indonesia: tidak ada negosiasi dengan AS
Duta Besar Iran untuk Indonesia menyatakan Teheran tidak akan membuka negosiasi dengan Amerika Serikat, meski Jakarta menawarkan diri untuk memediasi konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan bahwa pemerintahnya menghargai kesiapan Indonesia untuk membantu memediasi konflik. Namun, ia menegaskan bahwa Iran tidak melihat kemungkinan adanya perundingan dengan Amerika Serikat.
“Kami tentu menyampaikan apresiasi atas pesan dan kesiapan mediasi yang telah disampaikan oleh Indonesia. Tetapi bagi kami, tidak ada negosiasi dengan negara yang melancarkan permusuhan terhadap kami, yaitu Amerika Serikat,” ujar Boroujerdi dalam konferensi pers, seperti dikutip Detik, Kamis.
Pernyataan itu disampaikan setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada awal pekan ini. Boroujerdi menilai tidak ada jaminan Washington akan mematuhi kesepakatan jika negosiasi dilakukan.
Indonesia tawarkan peran mediasi
Sebelumnya, pemerintah Indonesia menyatakan siap membantu memfasilitasi dialog antara pihak-pihak yang terlibat konflik. Melalui unggahan resmi Kementerian Luar Negeri RI di platform X, pemerintah menyatakan kesiapan Presiden RI untuk melakukan upaya diplomasi jika diperlukan, termasuk melakukan kunjungan ke Teheran.
Indonesia juga menyesalkan kegagalan perundingan antara AS dan Iran yang dinilai memicu eskalasi militer di kawasan. Jakarta mendorong seluruh pihak untuk kembali menempuh jalur dialog dan diplomasi guna meredakan ketegangan.
Pakar nilai Indonesia punya keterbatasan
Sejumlah pengamat menilai Indonesia menghadapi tantangan besar jika ingin berperan sebagai mediator. Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla menilai posisi Indonesia tidak sebanding dengan kekuatan Amerika Serikat dalam konteks perundingan tersebut.
“Indonesia saja tidak setara dengan Amerika. Bagaimana mendamaikan pihak yang tidak setara dalam situasi seperti ini,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS), M. Waffa Kharisma. Menurutnya, Indonesia tidak memiliki daya tawar yang cukup kuat dalam konflik tersebut, sementara situasi di lapangan masih sangat eskalatif.
Waffa menilai langkah paling realistis bagi Indonesia saat ini adalah memperkuat ketahanan domestik agar tidak terdampak langsung oleh konflik, terutama dari sisi ekonomi dan energi.
Risiko ekonomi dan geopolitik
Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Yusli Effendi, menyoroti potensi dampak ekonomi yang dapat dirasakan Indonesia jika konflik semakin meluas, terutama terkait harga energi.
Menurutnya, lonjakan harga minyak dunia bisa terjadi jika konflik mengganggu jalur strategis seperti Selat Hormuz. Kondisi itu berpotensi memengaruhi subsidi energi dan defisit anggaran Indonesia.
Para analis juga menilai Indonesia perlu menjaga keseimbangan diplomasi. Sikap yang terlalu pasif berisiko memunculkan persepsi negatif dari berbagai pihak di panggung global, baik dari negara Barat maupun mitra lain seperti Iran dan kelompok negara BRICS+.
Ketegangan memanas di Timur Tengah
Konflik meningkat setelah serangan yang dilancarkan AS dan Israel ke Teheran menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang memimpin negara tersebut sejak 1989.
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa sejumlah pejabat tinggi, termasuk anggota keluarga Khamenei dan petinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), turut menjadi korban.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke sejumlah target yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah, termasuk pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Pemerintah Iran menyatakan akan terus melanjutkan operasi militernya. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa angkatan bersenjata negaranya akan bertindak untuk menghancurkan basis-basis musuh di kawasan.