BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Rupiah menguat usai ketegangan AS-Iran mereda, intervensi Bank Indonesia berlanjut
Sentimen pasar global membaik setelah Presiden Donald Trump menyetujui gencatan senjata sementara, memberi ruang bagi rupiah untuk bangkit dari tekanan dolar AS.
Rupiah menguat usai ketegangan AS-Iran mereda, intervensi Bank Indonesia berlanjut
Seorang teller sedang menghitung uang kertas di tempat penukaran uang di Jakarta. / Reuters
5 jam yang lalu

Nilai tukar rupiah menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada pembukaan perdagangan Rabu (08/04). Mata uang Garuda berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring dengan meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah dan langkah intervensi proaktif dari otoritas moneter dalam negeri.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 0,54 persen atau naik 93 poin ke level Rp17.012 per dolar AS. Meski masih berada di zona Rp17.000-an, posisi ini jauh lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan Selasa kemarin yang sempat terpuruk di level Rp17.105 per dolar AS.

TerkaitTRT Indonesia - Trump setuju hentikan serangan ke Iran selama dua minggu

Gencatan senjata jadi angin segar

Pulihnya kurs rupiah tidak lepas dari meredanya kekhawatiran pelaku pasar global. Analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut penguatan ini didorong oleh sikap politik luar negeri AS yang melunak.

"Langkah Presiden AS Donald Trump untuk menunda serangan ke Iran selama dua minggu menjadi katalis utama," ujar Lukman. Ia menambahkan bahwa kesepakatan gencatan senjata tersebut memicu penurunan tajam harga minyak dunia dan mengembalikan selera risiko investor.

Dampak positif ini juga menjalar ke pasar modal domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau merangkak naik ke level 7.149,88 pada pembukaan perdagangan hari ini. Lukman memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.100 per dolar AS sepanjang hari, sementara indeks dolar diperkirakan melandai di level 98,99.

Bank Indonesia kawal stabilitas pasar

Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga volatilitas nilai tukar agar tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional. Intervensi dilakukan secara masif di berbagai lini pasar uang.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa pihaknya akan terus mengoptimalisasikan seluruh instrumen operasi moneter yang tersedia.

"BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), maupun NDF di offshore market," tegas Destry.

Langkah "Triple Intervention" yang dijalankan BI ini dinilai krusial dalam menahan kejatuhan rupiah lebih dalam di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi. Para analis menilai sinergi antara sentimen eksternal yang membaik dan pengawalan ketat dari otoritas moneter akan memberikan napas baru bagi mata uang nasional dalam beberapa waktu ke depan.

SUMBER:TRT Indonesia