Sekjen partai komunis Vietnam To Lam berjanji pertumbuhan ekonomi di atas 10 persen
Pemimpin Vietnam To Lam berjanji menjaga pertumbuhan ekonomi tahunan di atas 10 persen hingga 2030 meski tantangan global meningkat.
Pemimpin tertinggi partai komunis Vietnam, To Lam, berjanji mendorong pertumbuhan ekonomi tahunan di atas 10 persen hingga akhir dekade ini, meskipun perekonomian global menghadapi berbagai tekanan termasuk perang tarif AS dan dinamika geopolitik yang tak menentu.
Janji tersebut disampaikannya dalam pidato pembukaan Kongres Partai Komunis Vietnam di Hanoi pada Selasa (20/01), forum lima tahunan yang akan menentukan arah politik dan ekonomi negara itu hingga 2030.
Kongres selama sepekan ini dihadiri sekitar 1.600 delegasi dan akan memilih ketua partai, jabatan paling berkuasa di negara berpemerintahan satu partai.
Dalam pidatonya, Lam menyoroti tantangan berlapis yang dihadapi Vietnam, mulai dari bencana alam, wabah penyakit, risiko keamanan, hingga gangguan besar pada rantai pasok energi dan pangan.
Dokumen partai yang diajukan ke kongres menetapkan target pertumbuhan ekonomi minimal 10 persen per tahun sampai 2030, jauh di atas target 6,5–7 persen yang gagal dicapai pada paruh pertama dekade ini.
Lam, mantan kepala keamanan negara yang kini berusia 68 tahun, berupaya mempertahankan posisinya sebagai ketua partai dan berpeluang merangkap jabatan presiden.
Ia dikenal sebagai figur berani mengambil risiko dan mendapat pujian investor asing atas agenda reformasinya, meski kebijakan perampingan birokrasi telah memicu kritik karena puluhan ribu pegawai negeri kehilangan pekerjaan.
Di saat yang sama, Lam memperkuat peran aparat keamanan dengan memberi polisi kewenangan lebih besar dalam pengawasan regulasi dan dunia usaha, serta meningkatkan rivalitas dengan militer yang memiliki kepentingan ekonomi luas.
Lam menegaskan perlunya pengurangan hambatan birokrasi dan perluasan perdagangan global untuk menjaga kemandirian dan kepentingan nasional.
Tarif impor 20 persen yang diberlakukan Amerika Serikat pada Agustus lalu belum menahan laju ekspor Vietnam, bahkan mencatatkan surplus perdagangan rekor dengan Washington tahun lalu. Namun Hanoi kini berupaya memperluas mitra dagang lain karena dampak tarif AS diperkirakan terasa dalam beberapa bulan ke depan.
Vietnam tengah menggenjot proyek infrastruktur besar, termasuk rencana jalur kereta baru ke China, jaringan kereta cepat nasional senilai hampir $70 miliar, serta pembangunan bandara baru di sekitar kota-kota besar.
Langkah ini mendorong pertumbuhan, namun juga memunculkan kekhawatiran soal pemborosan dan keberpihakan.