TNI AU uji coba pendaratan F-16 di Tol Lampung sebagai landasan darurat pesawat militer
Pesawat tempur F-16 dan Super Tucano milik TNI AU mendarat di ruas Tol Trans Sumatera dalam uji coba penggunaan jalan tol sebagai landasan darurat.
Langit Lampung menjadi saksi manuver tak biasa saat pesawat tempur TNI Angkatan Udara melakukan lepas landas dan pendaratan di ruas Tol Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung, Rabu (11/2).
Uji coba ini merupakan bagian dari konsep highway strip, yakni pemanfaatan jalan tol sebagai landasan alternatif bagi pesawat militer dalam situasi darurat.
Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto mengatakan penggunaan jalan tol sebagai landasan cadangan penting untuk menjaga kesiapan pertahanan di negara kepulauan seperti Indonesia. Infrastruktur tersebut dapat dimanfaatkan apabila pangkalan udara utama mengalami gangguan atau serangan.
“Ini menjadi tonggak yang baik dalam upaya memperkuat fleksibilitas operasi udara nasional,” ujarnya, seperti dilaporkan AFP.
Uji coba di Lampung melibatkan koordinasi lintas lembaga, termasuk Kementerian Pertahanan, Kementerian Pekerjaan Umum, serta BUMN pengelola jalan tol. Seluruh tahapan dilakukan dengan fokus pada keselamatan penerbangan, pengamanan area, serta kesiapan teknis di lapangan.
Kepala Staf TNI Angkatan Udara Mohamad Tonny Harjono menyebut konsep landasan darurat di jalan tol bersifat situasional dan hanya digunakan ketika diperlukan. Ia menargetkan setidaknya satu ruas tol di setiap provinsi dapat difungsikan sebagai landasan alternatif dalam kondisi darurat.
Pengujian ini juga menunjukkan potensi infrastruktur sipil memiliki fungsi strategis tambahan bagi sistem pertahanan negara. Jalan tol yang umumnya digunakan untuk mobilitas masyarakat dan distribusi logistik dapat beralih fungsi menjadi bagian dari jaringan pertahanan dalam skenario kontinjensi.
Selain meningkatkan fleksibilitas operasi, strategi ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada pangkalan tetap sehingga risiko lumpuhnya kekuatan udara akibat serangan di satu titik dapat diminimalkan. Konsep serupa sebelumnya telah diterapkan di sejumlah negara sebagai bagian dari strategi pertahanan modern.
Uji coba tersebut berlangsung di tengah upaya pemerintah memperkuat modernisasi alat utama sistem persenjataan dan kesiapan militer nasional di berbagai wilayah Indonesia.