Dua dekade setelah NASA diberi tugas melacak asteroid dekat Bumi, para ilmuwan kini memperingatkan adanya ancaman baru: asteroid yang mengorbit bersama Venus. Asteroid-asteroid ini—yang mengitari Matahari pada lintasan serupa—disebut berpotensi menabrak Bumi, menurut studi terbaru yang ditulis bersama oleh sejumlah ilmuwan.
Asteroid ko-orbital Venus dikategorikan sebagai berbahaya apabila memiliki lebar minimal 140 meter dan melintasi dalam jarak 0,05 satuan astronomi dari orbit Bumi. Meski mengikuti jalur Venus, benda-benda langit yang sulit dideteksi ini bisa menyimpang menuju Bumi dan luput dari sistem deteksi saat ini.
Para ilmuwan NASA menyurvei wilayah seluas 1,3 satuan astronomi (sekitar 194 juta kilometer).
Berjudul “The Invisible Threat: Assessing the Collisional Hazard Posed by the Undiscovered Venus Co-Orbital Asteroids,” studi ini mengungkap bahwa asteroid dengan eksentrisitas rendah sangat sulit diamati dari Bumi.
Ko-orbital Venus kerap memiliki orbit eksentrik — pola yang diyakini lebih disebabkan oleh tantangan observasi ketimbang karakter orbit sebenarnya.
Untuk menggali lebih dalam, para peneliti membuat simulasi “kloning” asteroid-asteroid ini dan menjalankan model orbit sepanjang 36.000 tahun virtual. Hasilnya, asteroid dengan eksentrisitas dan kemiringan rendah memang bisa memotong orbit Bumi dan menimbulkan risiko tabrakan.
“Dua puluh asteroid ko-orbital Venus saat ini telah diketahui,” tulis para penulis. “Status ko-orbital memang melindungi asteroid-asteroid ini dari pendekatan dekat ke Venus, tetapi tidak melindungi mereka dari kemungkinan bertemu dengan Bumi.”
Seberapa besar risikonya?
Mendeteksi benda-benda langit ini dari Bumi sangat sulit karena silau cahaya Matahari menutupi sebagian besar orbit mereka. Pengamatan jadi lebih memungkinkan ketika mereka mendekati Bumi dan berpindah ke wilayah langit yang lebih mudah terlihat.
Beberapa misi telah diusulkan, termasuk yang mengorbit di antara Matahari-Bumi atau Matahari-Venus. Observatorium Vera Rubin di Chili, yang dijadwalkan mulai beroperasi Juli 2025, diperkirakan dapat mendeteksi sebagian objek ini saat kondisi pengamatan mendukung. Namun, studi ini menyebut bahwa hal itu belum cukup untuk pelacakan menyeluruh.
“Meski survei seperti dari Observatorium Rubin mungkin bisa mendeteksi sebagian asteroid ini dalam waktu dekat, kami percaya hanya kampanye observasi khusus dari misi luar angkasa di dekat Venus yang bisa memetakan dan menemukan seluruh PHA ‘tak terlihat’ di antara asteroid ko-orbital Venus,” ungkap para peneliti.
Para ilmuwan lebih lanjut menyarankan bahwa misi berbasis luar angkasa yang ditempatkan di orbit Venus dan menghadap menjauh dari Matahari akan menjadi solusi paling efektif. Misi semacam ini bisa mengatasi masalah visibilitas dan memungkinkan pelacakan terus-menerus terhadap objek-objek yang sulit dijangkau ini.
Dengan beberapa asteroid ko-orbital Venus berpotensi menyebabkan kehancuran setingkat kota, studi ini menekankan pentingnya meningkatkan metode deteksi untuk mengidentifikasi dan memantau ancaman “tak kasat mata” tersebut.
Sebuah asteroid tunggal berdiameter 150 meter bisa melepaskan energi setara ratusan megaton TNT saat menghantam Bumi. Energi sebesar itu ribuan kali lebih dahsyat dari bom atom yang dijatuhkan selama Perang Dunia II.














