Serangan udara mengguncang Teheran, 100.000 orang meninggalkan kota dalam dua hari pertama perang
Konflik tampak meluas, meski PBB menyebut belum ada lonjakan perpindahan lintas batas terkait peristiwa terbaru sejauh ini.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan sekitar 100.000 orang meninggalkan Teheran pada dua hari pertama serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari dan 1 Maret.
“Di Iran, diperkirakan 100.000 orang meninggalkan Teheran dalam dua hari pertama pasca-serangan,” kata UNHCR, badan pengungsi PBB, dalam laporan situasi yang dirilis Rabu.
“Laporan terbaru menunjukkan tidak ada peningkatan pergerakan lintas batas terkait peristiwa baru-baru ini. Situasi di pos perbatasan Islam Qala dengan Afghanistan tetap stabil, tanpa perubahan signifikan yang teramati,” tambah laporan itu.
Serangan besar-besaran AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei memicu serangan balasan Teheran menggunakan rudal dan drone ke Israel melintasi Teluk Persia.
Serangan yang dilancarkan pada 28 Februari itu dilakukan tanpa otorisasi Kongres AS. Senat dijadwalkan memberikan suara pada Rabu terkait langkah yang bisa menghentikan ofensif tersebut.
Sejak itu, konflik meluas ke seluruh Timur Tengah, dengan ratusan orang dilaporkan tewas, termasuk enam personel militer AS, saat permusuhan merambah Lebanon, Suriah, Irak, Israel, dan Teluk Persia.
Para pengkritik menyebut pemerintahan Trump memberikan penjelasan yang berbeda-beda terkait ofensif ini. Kadang disebut sebagai upaya pre-emptive untuk melemahkan kemampuan militer dan nuklir Iran, sementara di lain waktu dijelaskan sebagai langkah melindungi kepentingan AS setelah Israel memulai serangan sendiri.
Sekretaris Negara AS Marco Rubio menyampaikan justifikasi berbeda, mengatakan Gedung Putih merasa terpaksa menyerang Iran karena sekutu dekatnya, Israel, sudah bertekad untuk bertindak.
“Jelas sekali, jika Iran diserang oleh siapa pun – AS, Israel, atau lainnya – mereka akan merespons, termasuk terhadap AS,” ujar Rubio kepada wartawan di Capitol Hill.
Api konflik di kawasan
Wells Dixon, pengacara senior di Center for Constitutional Rights, menilai alasan Trump lebih mencerminkan tujuan militer.
“Itu adalah tujuan kebijakan militer. Bukan dasar hukum untuk melancarkan serangan bersenjata terhadap negara lain,” kata Dixon.
Senator Tim Kaine menyatakan mendukung upaya AS membela Israel selama serangan Iran sebelumnya, “tapi itu berbeda dengan AS memulai perang secara aktif.”
Perang di Iran kini merembet ke Lebanon. Israel melancarkan serangan udara dan invasi darat ke Lebanon selatan serta pinggiran Beirut, menargetkan Hezbollah, sekutu setia Iran, menewaskan banyak orang dan menyebabkan ribuan mengungsi.
Sementara itu, drone dan rudal Iran semakin memperluas konflik dengan menargetkan pangkalan AS di Teluk, menjadikan kawasan itu sebagai medan perang multi-front tanpa tanda-tanda akhir cepat.