Peringatan satu dekade upaya kudeta 15 Juli di Türkiye digelar di Jakarta melalui sebuah forum diskusi bertajuk “Kehendak Nasional dan Ketahanan Demokrasi”. Acara yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Türkiye di Jakarta ini menjadi bagian dari peringatan tahunan Hari Demokrasi dan Persatuan Nasional Türkiye setiap 15 Juli.
Forum yang menghadirkan akademisi, diplomat, hingga perwakilan think tank dan media ini dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an serta pemutaran video tematik, sebelum dilanjutkan pesan video Kepala Komunikasi Kepresidenan Türkiye, Burhanettin Duran, dan sambutan Duta Besar Türkiye untuk Indonesia, Talip Kucukcan.
Dalam pesannya, Duran menegaskan Ankara memiliki tekad kuat untuk menghadapi segala ancaman terhadap kedaulatan negara. Ia juga mengingatkan bahwa jaringan FETO —Kelompok yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut — tidak hanya menjadi ancaman bagi Türkiye, tetapi juga bagi negara lain tempat kelompok tersebut beroperasi.
“Solidaritas negara sahabat dan mitra sangat penting dalam menghadapi ancaman ini,” ujarnya.
Lebih jauh, Duran menilai peristiwa 15 Juli memberikan pelajaran penting bagi komunitas internasional, khususnya dalam menghadapi ancaman hibrida, disinformasi, dan krisis kebenaran. Ia menekankan perlunya penguatan kerja sama global untuk menciptakan tatanan internasional yang lebih adil.

Ketahanan demokrasi Türkiye
Panel yangi sejumlah menghadirkan tokoh ternama, dimoderatori oleh Oguz Guner, panel menghadirkan sejumlah pembicara, termasuk Kucukcan, Erman Akilli, Muhammad Syaroni Rofii, dan Deden Mauli Darajat.
Dalam paparannya, Küçükcan menilai pengalaman Türkiye menghadapi kudeta menjadi pelajaran penting yang dapat dibagikan kepada negara mitra, sekaligus memperkuat kerja sama Indonesia–Türkiye di bidang demokrasi dan ketahanan institusi.
Sementara itu, Akilli menyoroti demokrasi sebagai salah satu sumber utama kekuatan lunak Türkiye. Ia menyebut mobilisasi masyarakat pada 15 Juli sebagai “manifestasi paling kuat dari legitimasi demokrasi dan kehendak rakyat”.
Dari perspektif Indonesia, Rofii menilai narasi global mengenai peristiwa tersebut banyak dibentuk oleh media internasional, namun Türkiye tetap mampu menjaga stabilitas regional dan memperdalam kerja sama strategis dengan Indonesia, termasuk di sektor pertahanan dan teknologi.
Menutup sesi diskusi, Deden Mauli Darajat menekankan bahwa setiap demokrasi berkembang sesuai konteks sosial dan sejarahnya. Ia menilai solidaritas masyarakat dan penguatan institusi menjadi kunci dalam menjaga tatanan konstitusional Türkiye.
Selain diskusi, acara juga menampilkan pameran foto terkait peristiwa 15 Juli, dan ditutup dengan pemutaran film “15/07 Safak Vakti”.





















