Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis pada Kamis pagi, naik 3 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.941 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.944 per dolar AS. Penguatan terbatas ini mencerminkan kombinasi sentimen domestik yang membaik dan dinamika global yang relatif stabil.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan meredanya kekhawatiran terhadap prospek fiskal Indonesia menjadi salah satu faktor utama penopang rupiah.
“Kekhawatiran terhadap prospek fiskal Indonesia mereda seiring pelemahan harga minyak global,” ujarnya kepada Antara, seraya menambahkan bahwa penyesuaian harga BBM Pertamax turut mengurangi tekanan terhadap keseimbangan fiskal.
Menurutnya, kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa defisit fiskal dapat tetap terkendali, sekaligus memberikan dukungan bagi pasar obligasi domestik.
Selain itu, transmisi kebijakan kenaikan suku bunga Bank Indonesia yang diumumkan sehari sebelumnya juga mulai terasa, meningkatkan daya tarik imbal hasil aset dalam negeri.
Dari sisi eksternal, inflasi Amerika Serikat pada Mei 2026 tercatat naik menjadi 4,2 persen secara tahunan, didorong lonjakan harga energi di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Meski demikian, tekanan inflasi dinilai tidak sekuat kekhawatiran sebelumnya, tercermin dari perlambatan inflasi bulanan dan inflasi inti yang relatif stabil.
“Investor sedikit mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed tahun ini, meskipun kenaikan 25 basis poin pada Desember masih diperhitungkan,” kata Josua, dikutip oleh Antara.
Dengan kombinasi faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.












