Gempa M4,7 guncang Flores Timur: 15 warga luka-luka dan 100 keluarga dievakuasi
Serangkaian gempa susulan yang terus mengguncang Pulau Adonara memaksa warga meninggalkan rumah mereka demi mencari perlindungan di lokasi yang lebih aman.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 15 warga mengalami luka-luka akibat gempa tektonik yang mengguncang Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga saat ini, sekitar 100 Kepala Keluarga (KK) telah dievakuasi ke lokasi pengungsian guna menghindari risiko bangunan runtuh.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa data tersebut merupakan temuan awal per Kamis (9/4) sore, khususnya di Desa Terong, Kecamatan Adonara Timur.
"Tercatat lima warga mengalami luka berat, sementara sepuluh lainnya luka ringan. Total populasi yang terdampak langsung mencapai 100 rumah tangga," ungkap Abdul Muhari dalam keterangan resminya.
Pusat gempa di darat dan ancaman gempa susulan
Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berkekuatan Magnitudo 4,7 tersebut terjadi pada Rabu (8/4) dini hari. Meskipun kekuatannya tergolong moderat, sifat gempa yang sangat dangkal—dengan kedalaman hanya lima kilometer—menyebabkan getaran dirasakan sangat kuat oleh warga selama dua hingga empat detik.
Pusat gempa (episenter) terletak di darat, sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan stabilitas bangunan di wilayah terdampak. Hingga Kamis pagi, BMKG mencatat setidaknya telah terjadi 48 kali gempa susulan yang masih dirasakan oleh penduduk di sepanjang pesisir Pulau Adonara.
Respons darurat dan distribusi bantuan
Tim reaksi cepat dari BPBD Flores Timur bersama tim gabungan lintas instansi telah diterjunkan ke lokasi bencana. Fokus utama saat ini adalah pendataan kerusakan, pemantauan dampak lanjutan, serta pendirian tenda darurat untuk pengungsi.
"Tim gabungan mendapatkan pendampingan langsung dari BNPB untuk memastikan penanganan bencana berjalan cepat, tepat, dan akurat," tambah Abdul Muhari.
Selain fokus pada infrastruktur darurat, bantuan logistik mulai disalurkan kepada warga yang terdampak. BNPB juga mengeluarkan imbauan agar masyarakat tetap tenang namun waspada, serta segera mencari ruang terbuka jika kembali merasakan getaran signifikan.
Kondisi geografis NTT yang berada di jalur seismik aktif kembali mengingatkan pentingnya mitigasi bencana dan standar bangunan tahan gempa di wilayah pesisir dan kepulauan Indonesia.