Tiga pelaut Thailand 'diduga terjebak' setelah kapal diserang di Selat Hormuz
Upaya penyelamatan terus dilakukan terhadap tiga kru kapal Thailand yang diduga terjebak setelah kapal mereka terkena proyektil Iran, kata pemilik kapal.
Tiga kru diduga terjebak di atas kapal kargo Thailand yang terkena proyektil saat melintasi Selat Hormuz yang strategis, hingga Kamis, menurut pemilik kapal.
Pasukan Garda Revolusi Iran mengatakan pada Rabu bahwa mereka menembak kapal berbendera Thailand, Mayuree Naree, serta kapal berbendera Liberia di selat tersebut karena kapal-kapal itu dianggap mengabaikan "peringatan".
Kapal Thailand tersebut terkena serangan pada Rabu pagi saat transit melalui perairan Teluk, setelah berangkat dari Pelabuhan Khalifa di Uni Emirat Arab.
Dua proyektil tersebut merusak ruang mesin Mayuree Naree dan menyebabkan kebakaran, kata perusahaan transportasi Thailand, Precious Shipping, dalam pernyataan Rabu malam.
“Tiga kru dilaporkan hilang dan diduga terjebak di ruang mesin,” kata pernyataan itu, menambahkan bahwa pihak berwenang sedang berupaya menyelamatkan mereka.
“Sayangnya, hingga saat ini kondisinya masih sama,” kata Direktur Utama perusahaan, Khalid Hashim, kepada AFP pada Kamis.
“Kami masih belum bisa menurunkan siapa pun ke kapal kami, meski api telah dipadamkan. Kami sedang mencoba berbagai cara untuk bisa naik ke kapal,” tambahnya melalui email.
Bangkok protes serangan
Angkatan laut Oman telah menyelamatkan 20 dari 23 kru kapal pada Rabu, menurut angkatan laut Thailand.
Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan seluruh 23 kru adalah warga Thailand.
Semua kapal Thailand telah meninggalkan Selat Hormuz, dan Bangkok “memprotes kekerasan yang dilakukan terhadap kapal dagang,” kata juru bicara deputi kementerian, Panidol Patchimsawat, kepada wartawan pada Kamis.
“Harap diyakini bahwa kami sedang melakukan misi untuk menemukan tiga kru yang hilang,” tambahnya.
Sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari memicu perang di Timur Tengah, Teheran melancarkan serangan balasan terhadap basis-basis AS, Israel, dan negara-negara Teluk.
Serangan ini mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz dan menimbulkan krisis bagi ekonomi energi global.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan penting, melalui mana sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya melewati.