Banjir yang meluas di sejumlah wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara sejak akhir pekan lalu memicu dampak signifikan terhadap ribuan penduduk dan permukiman. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menunjukkan sedikitnya 8.616 jiwa terdampak, sementara 2.326 rumah dilaporkan terendam.
Kepala BPBD Sulawesi Tenggara, Laode Saifuddin, mengatakan angka tersebut merupakan akumulasi laporan hingga Senin.
“Jumlah rumah yang terendam banjir itu 2.326 bangun dengan warga terdampak 8.616 jiwa dari data yang masuk per hari Senin,” ujarnya dikutip oleh Antara pada Selasa (12/5).
Bencana ini tercatat melanda delapan wilayah administratif, mencakup Kota Kendari serta Kabupaten Konawe Selatan, Konawe, Konawe Utara, Konawe Kepulauan, Kolaka, Kolaka Timur, dan Buton Utara. Laporan terbaru menyebutkan Buton Utara menjadi daerah terakhir yang masuk dalam daftar wilayah terdampak.

Di antara wilayah tersebut, Kota Kendari mencatat dampak paling besar dengan 794 bangunan terendam, diikuti oleh Kabupaten Kolaka dan Konawe. “Semua di delapan daerah itu bencananya banjir, terakhir itu Buton Utara masuk laporan ke BPBD tadi malam,” kata Saifuddin.
Otoritas setempat mengingatkan warga untuk tetap siaga, seiring prakiraan cuaca dari BMKG yang menunjukkan potensi hujan masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan di wilayah yang dikenal sebagai Bumi Anoa tersebut.
Pemerintah daerah juga menyatakan telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan bencana susulan.
“Kami juga meminta masyarakat tidak terprovokaasi dengan informasi yang belum pasti terkait bencana alam,” tambah Saifuddin.
Di Kota Kendari, BPBD bersama Dinas Sosial dan tim SAR Brimob Polda Sultra telah mendirikan posko pengungsian dan dapur umum, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar bantaran Kali Wanggu.
Selain itu, bantuan logistik mulai disalurkan, termasuk makanan siap saji, beras sebanyak 200 kilogram, air mineral, kopi sachet, dan minyak goreng, dengan total nilai mencapai sekitar Rp15 juta.
Menurut BPBD, bantuan tersebut saat ini dikonsolidasikan di satu posko utama sebelum didistribusikan ke berbagai wilayah terdampak lainnya.















