Indonesia–China perkuat kerja sama strategis ekonomi, dorong investasi Rp36,7 triliun

Pemerintah memperdalam kemitraan ekonomi dengan China melalui penguatan perdagangan dan investasi lintas negara. Kerja sama ini ditopang komitmen investasi senilai Rp36,7 triliun di sejumlah sektor strategis.

By
Kapal induk ketiga China, Fujian, terlihat saat uji coba laut perdananya pada 7 Mei 2024. / AP

Pemerintah Indonesia terus memperkuat hubungan bilateral dengan China sebagai mitra strategis utama untuk menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Penguatan kerja sama ini mencakup sektor perdagangan, investasi, hingga integrasi rantai pasok industri.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI tahun 2024, China tetap menjadi mitra dagang terbesar Indonesia dengan nilai transaksi mencapai US$135,2 miliar. Hubungan ekonomi kedua negara dinilai strategis mengingat Indonesia dan China sama-sama tergabung dalam kelompok negara G20.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kerja sama tersebut didukung peran aktif berbagai pemangku kepentingan, termasuk China Chamber of Commerce in Indonesia (CCCI), yang selama dua dekade menjadi penghubung antara pemerintah dan pelaku usaha.

“Ini merupakan tonggak penting bahwa kolaborasi dan kerja sama antara kedua negara terbuka luas. Pasar yang besar ini memberikan peluang bagi perusahaan dan kepentingan kedua negara,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya.

Sinergi dua kekuatan ekonomi

Secara makro, kemitraan ini mempertemukan dua kekuatan ekonomi besar. China merupakan ekonomi terbesar kedua dunia dengan produk domestik bruto (PDB) sekitar US$17,8 triliun, sementara Indonesia memiliki PDB sekitar US$1,4 triliun. Dengan total populasi hampir 1,7 miliar jiwa, kerja sama ini menyimpan potensi pasar yang sangat besar.

Salah satu pilar utama kolaborasi tersebut adalah inisiatif Two Parks Twin Countries (TPTC), yang bertujuan mengintegrasikan kawasan industri di kedua negara guna memperlancar arus investasi.

Komitmen terhadap TPTC diperkuat melalui pembaruan nota kesepahaman pada Mei 2025. Penandatanganan dilakukan oleh Menko Airlangga dan Menteri Perdagangan China Wang Wentao, disaksikan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri China Li Qiang.

Investasi lintas sektor

Sebagai tindak lanjut TPTC, perusahaan-perusahaan dari Fujian bersama mitra Indonesia telah menandatangani 16 proposal proyek dengan total nilai investasi US$2,19 miliar atau setara Rp36,7 triliun.

Investasi tersebut mencakup sektor industri logam dan manufaktur, pengolahan pangan, teknologi masa depan seperti drone, baterai, dan kecerdasan buatan, serta sektor komoditas termasuk tekstil, teh, dan furnitur.

Ke depan, pemerintah Indonesia menyatakan terbuka untuk memperluas kerja sama dengan China di bidang energi terbarukan, ekonomi digital, hingga komputasi kuantum. Langkah ini diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat pengembangan sumber daya manusia dan ketahanan nasional.