ASIA
3 menit membaca
Program digitalisasi pendidikan: 288 ribu smartboard disalurkan ke sekolah
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mulai menyalurkan 288 ribu Papan Interaktif Pintar (smartboard) ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Program ini mendukung digitalisasi pembelajaran dan pemerataan akses pendidikan, termasuk di daerah 3T.
Program digitalisasi pendidikan: 288 ribu smartboard disalurkan ke sekolah
Kemendikdasmen Mulai Distribusikan Smartboard. Foto: Kemendikdasmen
21 Oktober 2025

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi memulai distribusi 288 ribu perangkat Interactive Flat Panel (IFP) atau smartboard ke satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Dari total tersebut, sekitar 271 ribu sekolah telah siap menerima perangkat setelah melalui proses verifikasi dan validasi oleh dinas pendidikan setempat. Pada tahap pertama, lebih dari 13 ribu unit telah dikirim ke sekolah-sekolah di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Pengiriman selanjutnya akan dilakukan secara bertahap hingga Desember 2025.

Untuk menjamin pengiriman tepat sasaran, pemerintah menerapkan tiga lapis verifikasi, yaitu Data Pokok Pendidikan (Dapodik), validasi dinas pendidikan, dan pernyataan kesediaan sekolah penerima.

Program ini merupakan bagian dari komitmen Presiden Prabowo Subianto terhadap digitalisasi pendidikan, yang dicanangkan pada Hari Guru Nasional 2024 dan Hari Pendidikan Nasional 2025. Targetnya adalah setiap sekolah memiliki smartboard untuk menunjang proses pembelajaran, sebagaimana diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 terkait revitalisasi pendidikan, pembangunan sekolah unggul, dan digitalisasi pembelajaran.

Digitalisasi pembelajaran untuk pengalaman belajar yang merata dan interaktif

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto, menekankan bahwa digitalisasi pembelajaran membuat proses belajar lebih dinamis, interaktif, dan merata bagi anak-anak di seluruh pelosok negeri. Program ini menjadi jawaban terhadap tantangan pendidikan, termasuk rendahnya capaian literasi dan learning loss akibat pandemi.

“Digitalisasi pembelajaran mempercepat anak-anak Indonesia mengejar ketertinggalan sekaligus membiasakan keterampilan abad ke-21,” jelas Gogot dalam SINIAR episode 12: Digitalisasi Pembelajaran di kanal YouTube Kemdikdasmen.

Dengan smartboard, guru dan murid dapat berkolaborasi langsung melalui layar sentuh. Kontennya dapat berupa teks, video, audio, gamifikasi, bahkan augmented reality. Anak-anak dapat memperbesar, memperkecil, memutar model, dan menjawab soal interaktif di layar, sehingga pembelajaran lebih mudah dipahami dan menyenangkan.

Gogot menegaskan bahwa program digitalisasi ini tidak hanya menyediakan perangkat, tetapi juga konten pembelajaran interaktif serta bimbingan teknis bagi guru agar mampu merancang pembelajaran kreatif dan inovatif. Semua komponen disiapkan secara terintegrasi agar pembelajaran maksimal.

Data Direktorat Jenderal PAUD Dikdasmen menunjukkan konten digital tersedia di platform Rumah Pendidikan sebanyak 2.400 konten, dengan 406 konten baru, dan ditargetkan 500 materi baru hingga akhir 2025. Pemerintah juga menjajaki kerja sama dengan dunia usaha dan industri untuk penyediaan konten tambahan.

Program ini menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah 3T. Sekolah tanpa listrik mendapat panel surya dari PLN, sekolah tanpa internet diberikan perangkat tambahan agar tetap terhubung, dan konten interaktif dapat diakses offline melalui penyimpanan eksternal.

Pelatihan guru dilakukan secara berlapis, mulai dari pelatihan langsung, webinar, pengimbasan antar-guru, hingga modul belajar mandiri di platform digital Kemdikdasmen. Guru didorong cepat beradaptasi dan berbagi praktik baik melalui komunitas belajar di sekolah masing-masing.

Suasana kelas semakin hidup berkat smartboard

Salah satu sekolah yang sudah menerima smartboard adalah SMP Negeri 86 Jakarta. Haryanto, guru Informatika, menyampaikan kehadiran smartboard membuat suasana kelas lebih hidup dan menarik.

“Anak-anak lebih antusias karena format belajarnya variatif. Mereka yang sebelumnya malu maju ke depan kini berani karena belajar sambil bermain. Misalnya soal interaktif yang harus digeser jawabannya di papan, mereka berebut ingin mencoba,” ungkapnya.

Haryanto juga memanfaatkan platform Ruang Murid yang menyediakan materi lengkap, video, buku digital, laboratorium maya, hingga gim edukasi. Saat membahas topik perundungan, ia dapat menampilkan video, gambar, dan meminta siswa menjelaskan di papan sehingga mereka terlibat aktif.

Menurut Haryanto, teknologi justru memperkuat peran guru sebagai desainer pembelajaran. “Alat ini ibarat jembatan. Guru tetap kunci, namun kini punya banyak cara membuat kelas lebih menarik, mendalam, dan menyenangkan.”

Kehadiran smartboard memberi dampak positif, termasuk meningkatkan kesenangan siswa dalam belajar. Guru juga terbantu karena papan interaktif lebih praktis dan dapat menggantikan banyak perangkat lain tanpa kabel atau laptop tambahan.

TerkaitTRT Indonesia - Kolaborasi Indonesia–Belanda dorong inovasi riset dan pendidikan berkelanjutan

SUMBER:TRT Indonesia & Agensi