Nilai tukar rupiah tercatat menguat pada perdagangan Rabu, menembus level Rp16.986 per dolar AS, naik 55 poin atau 0,32 persen dari penutupan sebelumnya di Rp17.041. Penguatan ini didorong oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi meredanya konflik antara AS, Israel, dan Iran, sekaligus sentimen positif dari langkah kebijakan domestik.
Dari sisi domestik, pasar menyambut baik rencana kebijakan efisiensi pemerintah, meski investor tetap waspada terhadap harga minyak dunia yang masih berada di kisaran $100 per barel. Inflasi Indonesia pada Maret 2026 diperkirakan melandai menjadi 3,65 persen, didorong oleh insentif tarif listrik dan stabilnya harga pangan.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan tetap surplus sebesar $1,5 miliar, meningkat dari bulan sebelumnya, dengan kenaikan pada ekspor dan impor. Kondisi ini sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Sinyal positif datang dari Presiden AS, Donald Trump, yang menurut laporan The Wall Street Journal menyatakan kesiapan untuk mengakhiri operasi militer terhadap Iran. Penutupan Selat Hormuz mendorong naiknya harga minyak, serta biaya pengiriman, sehingga memperbesar kekhawatiran memburuknya krisis ekonomi.
Dengan dukungan sentimen global dan domestik, rupiah menunjukkan pergerakan positif di awal April, menandai optimisme pelaku pasar dalam menghadapi potensi deeskalasi konflik Timur Tengah dan stabilitas ekonomi nasional.









