BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Rupiah melemah akibat perang berkelanjutan AS-Iran, tembus Rp17.400 per dolar AS
Pada perdagangan Selasa siang, dolar AS tercatat berada di kisaran Rp17.426 di pasar spot global, Rupiah tercatat turun tipis 11 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Rupiah melemah akibat perang berkelanjutan AS-Iran, tembus Rp17.400 per dolar AS
Uang kertas rupiah Indonesia dihitung di tempat penukaran uang di Jakarta. / Reuters

Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa pagi (5/5) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Rupiah tercatat turun tipis 11 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.405 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.394 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terutama dipicu memburuknya situasi di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar AS sebagai aset aman. 

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai konflik yang terus berkembang di kawasan tersebut menjadi faktor utama pergerakan pasar. 

“Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat, merespons eskalasi di Timteng,” ujarnya kepada Antara pada Selasa.

Ketegangan meningkat setelah laporan menyebut adanya serangan drone yang memicu kebakaran di fasilitas minyak di Fujairah, Uni Emirat Arab. Namun, pihak militer Iran membantah keterlibatan dalam serangan tersebut. 

Di saat yang sama, situasi di Selat Hormuz juga memanas, dengan Amerika Serikat meluncurkan operasi militer “Project Freedom” untuk mengamankan jalur pelayaran. Operasi itu didukung kapal perang, lebih dari 100 pesawat, serta sekitar 15.000 personel militer. Media Iran melaporkan bahwa negaranya sempat menembakkan rudal untuk menghalau kapal perang AS di wilayah tersebut.

TerkaitTRT Indonesia - Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada Q1 2026, ditopang konsumsi domestik

Bank Indonesia (BI) menilai tekanan terhadap rupiah masih sejalan dengan tren pelemahan yang terjadi pada mayoritas mata uang negara berkembang sejak konflik meningkat. 

Data BI menunjukkan sejumlah mata uang lain juga mengalami depresiasi, seperti peso Filipina, baht Thailand, hingga rupee India.

Otoritas moneter menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar domestik maupun offshore. Langkah tersebut dilakukan melalui instrumen seperti transaksi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

“Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, sebagaimana dikutip oleh Antara.

Pada perdagangan Selasa siang, dolar AS tercatat berada di kisaran Rp17.426 di pasar spot global. 

Sementara itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS, turun dari posisi bulan sebelumnya. 

Meski demikian, BI menilai level tersebut masih memadai karena setara dengan pembiayaan sekitar enam bulan impor dan tetap berada di atas standar kecukupan internasional.

TerkaitTRT Indonesia - Pasar saham Asia goyah, harga minyak tetap tinggi saat konflik AS-Iran meningkat
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi