BISNIS DAN TEKNOLOGI
3 menit membaca
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada Q1 2026, ditopang konsumsi domestik
BPS menjelaskan pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh aktivitas ekonomi dalam negeri, terutama konsumsi rumah tangga selama periode Ramadan dan Idulfitri.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada Q1 2026, ditopang konsumsi domestik
FOTO ARSIP: Pemandangan kota Jakarta. / Reuters

Perekonomian Indonesia mencatat kinerja kuat pada awal 2026 dengan pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan pertama. Capaian ini melampaui periode sebelumnya sekaligus menunjukkan ketahanan ekonomi domestik di tengah tekanan global, termasuk dampak konflik geopolitik di Timur Tengah. 

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada Selasa (5/5) bahwa nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada periode Januari–Maret 2026 mencapai Rp3.447,7 triliun atas dasar harga konstan, dan Rp6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku. 

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan bahwa pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh aktivitas ekonomi dalam negeri, terutama konsumsi rumah tangga selama periode Ramadan dan Idulfitri.

“Ditopang oleh aktivitas ekonomi domestik, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen pada triwulan I-2026,” ujarnya di Jakarta. 

Selain itu, belanja pemerintah mencatat lonjakan signifikan—tumbuh lebih dari 21 persen dibandingkan tahun sebelumnya—yang turut mendorong ekspansi ekonomi secara keseluruhan.

TerkaitTRT Indonesia - Pemerintah proyeksikan ekonomi tumbuh lebih kuat, kuartal II 2026 di atas 5,5 persen

Dari sisi sektoral, sejumlah lapangan usaha menunjukkan pertumbuhan kuat, terutama sektor akomodasi dan makan minum yang melonjak lebih dari 13 persen. Aktivitas jasa, transportasi, serta industri pengolahan juga memberikan kontribusi penting terhadap pertumbuhan nasional.

Secara keseluruhan, kinerja ekonomi ini bahkan melampaui pertumbuhan kuartal sebelumnya yang berada di kisaran 5,3–5,4 persen, sekaligus menjadi laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

Sejumlah analis mengingatkan agar capaian ini tidak dibaca secara berlebihan. Ekonom Capital Economics, Gareth Leather, menilai arah kebijakan fiskal yang lebih populis dan intervensi pemerintah berpotensi menimbulkan tekanan terhadap stabilitas makroekonomi. Ia juga menyoroti kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan pelebaran defisit anggaran di tengah komitmen pemerintah mempertahankan subsidi energi.

Tekanan eksternal juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Lonjakan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah meningkatkan beban anggaran negara, mengingat Indonesia masih merupakan net importir energi meski memiliki produksi domestik. 

Pemerintah sebelumnya memperkirakan setiap kenaikan harga minyak global akan menambah beban fiskal secara signifikan.

Di sisi lain, pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto menargetkan percepatan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen dalam beberapa tahun ke depan, dengan mengandalkan ekspansi belanja publik dan investasi.

TerkaitTRT Indonesia - Risiko resesi dibawah 5 persen, Airlangga: Ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah gejolak global

Meski demikian, lembaga internasional seperti Bank Dunia justru menurunkan proyeksi pertumbuhan Indonesia untuk 2026 menjadi sekitar 4,7 persen, mencerminkan ketidakpastian global yang masih tinggi.

Bank Indonesia pun menyatakan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah volatilitas pasar. Sementara itu, inflasi tetap relatif terkendali, dengan tingkat tahunan pada April tercatat 2,42 persen—terendah sepanjang tahun ini.

Dengan kombinasi konsumsi domestik yang kuat dan dukungan fiskal, ekonomi Indonesia memulai 2026 dengan momentum positif. 

Namun, keberlanjutan tren ini akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara stimulus pertumbuhan dan stabilitas fiskal di tengah dinamika global yang tidak menentu.

SUMBER:AFP, TRT Indonesia
Jelajahi
IHSG melemah tajam setelah MSCI hapus enam saham Indonesia dari indeks global
Rupiah melemah ke level terendah, pemerintah siapkan intervensi pasar obligasi
Meta ditentang karyawan usai lacak klik dan ketikan demi pelatihan AI
Utang Indonesia nyaris Rp10.000 triliun, Menkeu: kondisi fiskal masih aman
Pemerintah RI tunda kenaikan royalti dan pajak ekspor tambang, tunggu formula lebih baik
Rupiah melemah ke Rp17.503 per dolar AS di tengah ketegangan Selat Hormuz
Pertamina, Departemen Energi AS perkuat kerja sama energi dan infrastruktur strategis
Indonesia dan Filipina bangun koridor nikel ASEAN, perkuat rantai pasok global
Perusahaan pertahanan Türkiye teken kontrak ekspor senilai hampir $8 miliar di pameran SAHA 2026
Perusahaan energi Eni umumkan hasil positif dari uji sumur gas Geliga-1 di lepas pantai Indonesia
AI dalam peperangan: 5 hal yang perlu diketahui tentang kesepakatan teknologi besar Pentagon
Indonesia akan jadi pasar penerbangan terbesar keempat dunia pada 2030, kata Menperin
Pemerintah targetkan pertumbuhan ekonomi 5,9–7,5 persen pada 2027
Indonesia teken pembelian 12 drone Kizilelma dari Türkiye
Rupiah dinilai undervalued, BI siapkan tujuh langkah stabilisasi nilai tukar
Indonesia dorong perluasan pasar ekspor ke Uni Eropa di tengah ketidakpastian global
Rupiah melemah akibat perang berkelanjutan AS-Iran, tembus Rp17.400 per dolar AS
Pasar saham Asia goyah, harga minyak tetap tinggi saat konflik AS-Iran meningkat
Surplus dagang Indonesia tembus US$3,32 miliar di tengah tekanan ekspor dan gejolak global
Pertamina kembali naikkan harga BBM nonsubsidi, Pertamax Turbo tembus Rp19.900 per liter