Juara Eropa tim nasional sepak bola Spanyol ditahan imbang 0-0 oleh pendatang baru Piala Dunia, tim nasional Cabo Verde, pada hari Senin, ketika turnamen itu menghasilkan kejutan besar pertama.
Spanyol memulai pertandingan pembukaan Grup H di Atlanta sebagai favorit kuat tetapi gagal menembus pertahanan tangguh Cabo Verde meskipun mendominasi penguasaan bola dan menciptakan sebagian besar peluang.
Masuknya bintang muda Lamine Yamal pada babak kedua pun tak mampu membuka lini belakang Cabo Verde sehingga tim underdog itu mengamankan satu poin bersejarah di pertandingan Piala Dunia pertama mereka.
Dijuluki Blue Sharks, Cabo Verde merayakan dengan gegap gempita saat peluit akhir dibunyikan setelah berhasil membuat frustasi juara dunia 2010.
Negara kepulauan dengan sekitar 525.000 jiwa itu lolos ke turnamen yang diperluas menjadi 48 tim dan menyuguhkan salah satu kejutan terbesar kompetisi.

Mimpi Cabo Verde menjadi kenyataan
Berbeda jauh dengan suhu menyengat yang dihadapi beberapa tim lain, stadion berteknologi tinggi di Atlanta yang ber-AC membuat tidak ada alasan untuk tempo lambat dalam penyerangan Spanyol.
Bahkan jeda hidrasi tengah babak disambut dengan ejekan karena suporter kesal terhadap jeda permainan meski kondisinya dingin.
Baru enam menit sebelum turun minum Spanyol benar-benar mengancam.
Marc Cucurella, yang baru memastikan kepindahannya dari Chelsea ke Real Madrid, mengirim umpan silang menggoda yang disundul Ferran Torres sehingga membentur mistar dan kiper Cabo Verde, Vozinha, segera bangkit untuk menepis sundulan melengkung Mikel Oyarzabal ke atas mistar.
Torres kembali menguji Vozinha beberapa saat kemudian sebelum sundulan Aymeric Laporte dari sepak pojok juga berhasil ditepis oleh kiper nomor satu Cabo Verde itu tepat sebelum turun minum.
Jeda itu datang pada waktu yang tepat bagi Blue Sharks dan mereka dengan nyaman bertahan pada babak kedua hingga masuknya Yamal setelah jeda hidrasi kedua.
Ditangai sebagai salah satu bintang turnamen, penampilan pemain 18 tahun itu langsung mengangkat suasana dan menyuntikkan kehidupan ke serangan Spanyol yang cenderung lesu.
Keterlibatan pertamanya menghasilkan peluang bagus bagi rekan penggantinya, Mikel Merino, yang sayangnya terlalu mudah bagi Vozinha.
Yamal juga memulai serangan yang membuat upaya Oyarzabal membentur dan melambung, yang menjadi peluang terbaik Spanyol pada babak kedua.
Cabo Verde nyaris merebut kemenangan dramatis pada menit terakhir pertandingan ketika Dani Borges menyundul namun bolanya terlalu mudah bagi Unai Simon.
Namun meski tanpa kemenangan, Vozinha yang berusia 40 tahun tak kuasa menahan air mata saat peluit akhir berbunyi karena Cabo Verde menghasilkan kejutan terbesar turnamen sejauh ini.
"Saya telah bekerja sepanjang hidup untuk ini, untuk momen ini, untuk mimpi ini," kata Vozinha, yang bermain untuk Chaves di divisi kedua Portugal.
"Banyak generasi di masa lalu bermimpi tentang ini, mereka tidak mencapainya," tambahnya. "Mimpi itu menjadi nyata, untuk kita semua."
Perjalanan Spanyol menuju gelar pada 2010 juga dimulai dengan mengecewakan lewat kekalahan dari Swiss, tetapi mereka masih punya banyak pekerjaan menjelang menghadapi Arab Saudi di Atlanta sekali lagi pada hari Minggu.
Cabo Verde berikutnya akan menghadapi Uruguay di Miami.










