Bank Indonesia lakukan intervensi untuk stabilkan rupiah yang melemah
Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia juga berkomitmen untuk menjaga batasan defisit fiskal, dan memitigasi dampak dari fluktuasi eksternal terhadap perekonomian domestik.
Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus tertekan akibat kondisi pasar global. Rupiah pada Selasa tercatat melemah 1,04 persen secara tahunan dan berada di level Rp16.860 per dolar AS, mendekati level terendah yang pernah tercatat.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa BI tidak hanya memantau situasi, tetapi juga aktif mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
Upaya ini termasuk melakukan intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri, yang meliputi kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta pasar domestik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
"BI akan terus memastikan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah mencerminkan nilai fundamentalnya dan berlangsung dalam mekanisme pasar yang sehat," ujar Hutapea.
Bank Indonesia mencatat bahwa aliran modal asing terus berlanjut, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang tercatat net inflow Rp11,11 triliun pada Januari 2026, yang turut membantu menjaga stabilitas rupiah.
Kondisi eksternal
Penurunan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang semakin mengkhawatirkan, seperti ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan di negara-negara maju.BI tetap optimis bahwa intervensi yang dilakukan akan mendukung kestabilan mata uang Indonesia.
Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap defisit fiskal yang meningkat, dengan anggaran negara mencatatkan defisit 2,92 persen terhadap PDB pada 2025. Meski begitu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa aliran modal asing yang terus mengalir menunjukkan adanya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia juga berkomitmen untuk menjaga batasan defisit fiskal, dan memitigasi dampak dari fluktuasi eksternal terhadap perekonomian domestik.
Dengan berbagai langkah strategis ini, Bank Indonesia berharap rupiah akan tetap stabil dan dapat kembali menguat dalam waktu dekat, terutama dengan terus mengandalkan aliran modal asing serta kebijakan moneter yang berkelanjutan.