Langkah Türkiye di Piala Dunia terhenti lebih cepat: Bukan semata karena kurang beruntung
DUNIA
8 menit membaca
Langkah Türkiye di Piala Dunia terhenti lebih cepat: Bukan semata karena kurang beruntungMeski mendominasi penguasaan bola, melepaskan 62 tembakan saat menghadapi Australia dan Paraguay, serta menutup fase grup dengan kemenangan atas Amerika Serikat, Türkiye tetap tersingkir dari Piala Dunia. Lantas, apa penyebabnya?
Kombinasi nasib buruk, hambatan di awal, dan ekspektasi yang kian meningkat memicu kemerosotan bagi Crescent Stars. (Arsip) / AP

Washington, DC - Sepak bola kerap disebut sebagai "permainan yang ditentukan oleh margin yang sangat tipis". Namun, terkadang hasil yang lahir terasa begitu kejam. Dan tak banyak tim yang memahami hal itu lebih baik dibandingkan Türkiye.

Tim berjuluk Crescent Stars datang ke Piala Dunia 2026 dengan peringkat FIFA ke-23 dan digadang-gadang sebagai salah satu kuda hitam. Namun, mereka justru menjadi salah satu tim pertama yang tersingkir, bahkan sebelum turnamen memasuki hari ke-10. Bandingkan dengan Tanjung Verde (Cape Verde), tim yang nyaris tak diperhitungkan sebelum turnamen. Berstatus peringkat ke-67 dunia, mereka justru sukses melaju ke babak 32 besar dan akan menghadapi Argentina.

Padahal, Türkiye yang diperkuat pemain-pemain bertalenta seperti Arda Guler, Kenan Yildiz, dan Hakan Calhanoglu tidak kekurangan kualitas maupun semangat bertanding. Hal itu terlihat dalam laga menghadapi Australia, Paraguay, hingga kemenangan atas Amerika Serikat di fase grup.

Dalam sepak bola, pantulan bola yang tak menguntungkan, keputusan wasit yang kontroversial, atau cedera bisa menggagalkan tim terbaik sekalipun. Sebaliknya, satu bola pantul atau tembakan yang membentur tiang bisa mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Türkiye merasakan kerasnya kenyataan itu, terutama saat menghadapi Australia dan Paraguay.

Pelatih Türkiye Vincenzo Montella menilai tersingkirnya timnya dari fase grup tak lepas dari faktor nasib buruk, meski secara statistik mereka tampil dominan.

Usai kekalahan dari Paraguay, Montella berulang kali menyinggung soal keberuntungan, takdir, dan bola yang seolah enggan masuk ke gawang lawan. Di saat yang sama, ia tetap memuji perjuangan para pemainnya dan membela mereka dari kritik.

"Saya sudah berkecimpung di dunia sepak bola selama 35 tahun, dan apa yang kami alami ini sangat luar biasa. Sangat jarang tim kalah dua kali berturut-turut dengan cara seperti ini. Keberuntungan tidak berpihak kepada kami," ujarnya.

Sepanjang dua laga pertama Piala Dunia, Türkiye mencatat anomali yang jarang terjadi. Mereka gagal mencetak gol meski melepaskan total 62 tembakan, terdiri dari 30 saat melawan Australia dan 32 ketika menghadapi Paraguay.

Tak hanya itu, mereka juga mencatat rata-rata penguasaan bola mencapai 76 persen dalam dua pertandingan tersebut, yang menunjukkan kualitas permainan mereka.

"Kami melepaskan 65 tembakan tetapi gagal mencetak gol, sementara lawan hampir tidak memiliki banyak peluang. Tim ini terus menciptakan peluang, bermain penuh semangat, bermain sepenuh hati, dan berjuang hingga akhir," kata Montella.

TerkaitTRT Indonesia - Jalan menuju New Jersey terbuka bagi 32 tim seiring berakhirnya fase grup Piala Dunia

Bangkit saat menghadapi tuan rumah AS

Laga terakhir fase grup melawan Amerika Serikat sejatinya sudah tidak menentukan karena Türkiye dipastikan tersingkir. Namun, mereka tetap tampil demi harga diri.

Hasilnya, Türkiye mengejutkan tuan rumah dengan kemenangan dramatis 3-2 melalui gol pada masa injury time dalam laga penutup Grup D di SoFi Stadium, Los Angeles.

Amerika Serikat sempat unggul cepat lewat sundulan Auston Trusty pada menit ketiga. Namun, Türkiye yang sebelumnya kesulitan mencetak gol akhirnya menemukan sentuhan penyelesaian yang selama ini hilang.

Arda Guler menyamakan kedudukan sebelum Baris Alper Yilmaz membalikkan keadaan jelang turun minum. Permainan agresif Türkiye terus merepotkan lini belakang Amerika Serikat.

Sebastian Berhalter membuat skor kembali imbang di awal babak kedua. Namun, Kaan Ayhan memastikan kemenangan Türkiye lewat gol pada masa injury time.

Setelah tampil dominan tanpa hasil dalam dua laga pertama, Türkiye akhirnya menemukan keseimbangan taktik yang tepat saat menghadapi Amerika Serikat.

Montella kembali menggunakan formasi 4-2-3-1 yang fleksibel, dengan perubahan menjadi blok bertahan 4-4-2 ketika kehilangan bola. Arda Guler bergerak lebih maju bersama Kenan Yildiz untuk menekan bek tengah lawan.

Saat menguasai bola, Türkiye kembali ke pola 4-2-3-1 dengan mengandalkan kreativitas Guler di belakang penyerang serta kecepatan Yilmaz dan Yildiz di kedua sisi sayap.

Salih Ozcan lebih banyak berperan sebagai gelandang bertahan, sementara Orkun Kokcu bergerak lebih ofensif mendukung Guler. Bek sayap, terutama Ferdi Kadıoğlu, aktif membantu serangan sehingga membuka ruang bagi para winger untuk bergerak ke tengah.

Pola permainan itu menjadi kunci kebangkitan Türkiye setelah sempat tertinggal lebih dulu. Guler dan Kokcu berulang kali menemukan ruang di antara lini tengah dan pertahanan Amerika Serikat.

Kemenangan tersebut setidaknya mampu meredam kritik yang sempat mempertanyakan kualitas dan komitmen tim.

Peran sentral Arda Guler

Meski menguasai jalannya pertandingan dan melepaskan 62 tembakan saat menghadapi Australia dan Paraguay, Türkiye tetap gagal mencetak gol.

Pada laga melawan Australia, Türkiye sebenarnya tampil lebih dominan. Namun, Australia bermain efektif melalui serangan balik dan mampu memanfaatkan peluang yang ada.

Saat menghadapi Paraguay, Türkiye langsung kebobolan pada detik ke-64, gol tercepat sepanjang turnamen. Setelah itu, Paraguay memilih bertahan total dengan menumpuk pemain di lini belakang.

Türkiye gagal mengejar ketertinggalan meski menguasai bola hingga 78 persen dan melepaskan 33 tembakan, enam di antaranya tepat sasaran.

Usai laga tersebut, Arda Guler meminta maaf kepada para pendukung.

"Kami seharusnya memenangkan pertandingan-pertandingan ini. Karena itu saya meminta maaf kepada rakyat Türkiye," ujarnya.

Di sepanjang turnamen, Guler yang baru berusia 21 tahun menjadi motor kreativitas serangan Türkiye. Ia mengambil hampir seluruh bola mati, mulai dari tendangan bebas hingga sepak pojok, sekaligus menjadi pengatur tempo permainan.

Meski ruang yang tersedia sangat terbatas, Guler tetap menjadi pusat hampir seluruh serangan timnya.

Kemampuan menggiring bola, visi umpan, serta kualitas bola matinya membuat Guler terus menciptakan ancaman, bukan hanya mengandalkan kecepatan atau fisik.

Kenan Yildiz dan Hakan Calhanoglu juga tampil baik dalam menciptakan peluang maupun melepaskan tembakan, tetapi Guler tetap menjadi pusat permainan Türkiye.

Penampilannya mencapai puncak saat melawan Amerika Serikat dengan mencetak satu gol, satu assist, dan terpilih sebagai pemain terbaik pertandingan.

Namun, di balik faktor keberuntungan, kegagalan Türkiye lebih banyak dipengaruhi buruknya penyelesaian akhir, kesalahan bertahan pada momen krusial, serta tekanan mental sepanjang turnamen.

Beberapa gol yang bersarang ke gawang Türkiye lahir akibat kesalahan saat transisi maupun hilangnya konsentrasi dalam waktu singkat, sehingga penampilan yang sebenarnya kompetitif berubah menjadi kekalahan.

Seiring tingginya ekspektasi yang tak diikuti hasil positif, kepercayaan diri para pemain perlahan menurun. Peluang yang terus terbuang dan kesalahan di lini belakang semakin memperbesar frustrasi hingga akhirnya mereka gagal bangkit.

TerkaitTRT Indonesia - Elite Eropa dan kekuatan Amerika Selatan, ini favorit juara Piala Dunia 2026

Penyelesaian akhir yang kurang tajam

Statistik menjadi bukti paling jelas mengenai lemahnya penyelesaian akhir Türkiye.

Mereka melepaskan 62 tembakan dalam dua laga pertama tanpa satu pun gol, meski rata-rata menguasai bola hingga 75 persen. Gol baru tercipta pada laga terakhir ketika peluang lolos sudah tertutup.

Catatan itu menjadi jumlah tembakan terbanyak tanpa gol dalam dua pertandingan beruntun sejak data mulai dicatat pada 1966. Dengan nilai expected goals (xG) mencapai 3,6, Türkiye sebenarnya memiliki peluang untuk mencetak tiga hingga empat gol.

Alur serangan mereka kerap mengalir dengan baik, tetapi terlalu banyak peluang berakhir lewat tembakan spekulatif dari luar kotak penalti, penyelesaian yang terburu-buru, atau kesempatan emas yang terbuang di depan gawang.

Spanyol juga mengalami masalah serupa. Meski menciptakan banyak peluang, mereka harus puas bermain imbang tanpa gol melawan debutan Tanjung Verde akibat buruknya penyelesaian akhir.

Masalah lain juga muncul di lini depan.

Montella memasang Kerem Aktürkoğlu sebagai ujung tombak. Padahal, pemain Fenerbahce itu sejatinya merupakan winger kiri, bukan penyerang murni. Ketiadaan striker alami membuat Montella harus mengubah perannya.

Kesalahan kecil yang berakibat fatal

Secara umum, lini belakang Türkiye sebenarnya tidak tampil buruk. Namun, mereka melakukan kesalahan tepat pada momen-momen yang menentukan.

Hal itu terlihat jelas saat menghadapi Australia.

Australia menggunakan formasi 5-4-1 yang dirancang untuk menutup ruang dan mengandalkan serangan balik.

Türkiye mendominasi penguasaan bola dan terus menyerang. Namun, pendekatan agresif tersebut meninggalkan ruang kosong di belakang lini tengah yang dimanfaatkan Australia untuk mencetak dua gol lewat transisi cepat.

Meski lebih banyak menguasai pertandingan, Türkiye gagal menjaga konsentrasi pada beberapa momen berbahaya.

Pola serupa kembali terjadi saat melawan Paraguay.

Türkiye sudah kebobolan setelah pertandingan baru berjalan sekitar satu menit. Awal yang buruk itu langsung mengubah jalannya pertandingan.

Alih-alih bermain sabar, Türkiye menghabiskan hampir seluruh sisa laga untuk mengejar ketertinggalan.

Gol cepat tersebut bukan hanya akibat kesalahan individu, melainkan hilangnya konsentrasi kolektif pada saat para pemain seharusnya berada dalam kondisi paling siap.

Gol itu memberi Paraguay skenario pertandingan yang mereka inginkan: bertahan rapat dan memaksa Türkiye membongkar pertahanan yang sangat dalam.

Situasi serupa juga dialami Uruguay, yang semula diprediksi lolos dengan mudah dari Grup H tetapi justru terus mengejar ketertinggalan di setiap pertandingan hingga akhirnya tersingkir.

Beban ekspektasi yang terlalu besar

Di luar urusan taktik, tingginya ekspektasi juga memberi tekanan besar kepada para pemain, terutama mereka yang belum berpengalaman tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.

Sebelum turnamen dimulai, Türkiye memang layak disebut sebagai salah satu kuda hitam. Performa impresif di babak kualifikasi, hadirnya generasi muda berbakat, serta hasil positif bersama Montella membuat banyak pihak yakin mereka mampu melaju jauh.

Namun, ekspektasi itu justru berubah menjadi beban ketika hasil pertandingan tidak berjalan sesuai harapan.

Setelah kalah dari Australia, setiap peluang yang gagal dimanfaatkan semakin meningkatkan tekanan.

Para pemain yang sebelumnya tampil percaya diri mulai terlihat terburu-buru di depan gawang. Banyak serangan kandas akibat keputusan yang kurang tepat, sementara frustrasi semakin terlihat seiring peluang terus terbuang.

Montella sempat mengisyaratkan hal itu usai laga melawan Australia. Menurutnya, persoalan tim bukan hanya soal taktik, tetapi juga kondisi mental para pemain.

Saat menghadapi Paraguay, tekanan itu semakin terasa.

Alih-alih memanfaatkan keunggulan jumlah pemain setelah Paraguay bermain dengan 10 orang, Türkiye justru tampil semakin terburu-buru. Semakin lama skor tetap 1-0, rasa putus asa semakin memengaruhi permainan mereka.

Pada akhirnya, kegagalan Türkiye di Piala Dunia bukan hanya soal strategi, tetapi juga persoalan psikologis. Mereka memiliki kualitas, mampu menciptakan banyak peluang, dan jarang benar-benar didominasi lawan.

Namun, perpaduan antara nasib buruk, awal turnamen yang mengecewakan, ekspektasi yang terlalu tinggi, serta frustrasi yang terus menumpuk menciptakan spiral negatif yang tak mampu mereka hentikan hingga akhirnya tersingkir lebih cepat.

Bagi Montella, yang membawa Türkiye kembali tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2002, faktor keberuntungan menjadi hal yang paling ia soroti.

"Sepak bola bukanlah sesuatu yang selalu logis. Justru itulah yang membuatnya menjadi olahraga paling indah di dunia."

SUMBER:TRT World