Investigasi ungkap dugaan penipuan sawit Indonesia terkait pasokan biofuel ke perusahaan Eropa

Temuan baru ini menimbulkan pertanyaan baru tentang pengawasan rantai pasok di sektor biofuel, menyoroti komitmen keberlanjutan perusahaan energi Eropa.

By
FOTO ARSIP: Buah kelapa sawit saat panen di perkebunan di desa Hanjalipan, Kotawaringin Timur, provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia, 22 Juli 2025. / Reuters

Sejumlah perusahaan Indonesia tengah diselidiki dalam kasus dugaan penipuan minyak sawit karena memasok bahan baku ke perusahaan energi besar di Eropa, termasuk raksasa energi Italia Eni dan produsen bahan bakar penerbangan berkelanjutan asal Finlandia Neste, menurut investigasi bersama AFP dan SourceMaterial.

Penyelidikan di Indonesia menuduh beberapa perusahaan bersama pejabat pemerintah melabeli minyak sawit sebagai palm oil mill effluent (POME)—limbah cair pengolahan sawit—untuk menghindari pajak yang lebih tinggi. 

Praktik tersebut diduga merugikan negara hingga jutaan dolar.

Tidak ada indikasi bahwa Eni, Neste, atau perusahaan Eropa lainnya mengetahui atau terlibat dalam dugaan penipuan tersebut. Namun temuan ini menimbulkan pertanyaan baru tentang pengawasan rantai pasok di sektor biofuel.

Kasus ini juga berpotensi mengganggu komitmen keberlanjutan perusahaan energi, mengingat minyak sawit kerap dikaitkan dengan deforestasi. Uni Eropa sendiri berencana melarang penggunaannya dalam biofuel mulai 2030.

Aktivis Transport and Environment, Cian Delaney, mengatakan penyamaran minyak sawit sebagai limbah seperti POME menunjukkan lemahnya sistem verifikasi. “Menyamarkan minyak sawit sebagai limbah terlalu mudah dilakukan. Verifikasi impor jelas gagal,” ujarnya.

Bulan lalu, otoritas Indonesia menangkap 11 orang, termasuk pejabat bea cukai, yang diduga terlibat dalam praktik pelabelan minyak sawit sebagai POME antara 2022 hingga 2024. 

Investigasi AFP dan SourceMaterial mengidentifikasi tiga perusahaan yang terkait dengan kasus tersebut, termasuk Green Product International, Surya Inti Primakarya, dan Bumi Mulia Makmur, yang diketahui terlibat dalam pengiriman bahan baku ke Eni dan perusahaan lainnya. 

Para direktur perusahaan tersebut kini berada dalam tahanan, menurut kantor jaksa agung.