Pemerintah Rusia melirik Indonesia sebagai salah satu negara potensial untuk diajak bekerja sama dalam pengembangan rute perdagangan maritim Jalur Laut Utara (Northern Sea Route/NSR).
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Pembangunan Kawasan Timur Jauh dan Arktik Rusia, Alexey Chekunkov, menjelang pembukaan Eastern Economic Forum (EEF) di Vladivostok, Rusia.
"Indonesia dan Vietnam merupakan mitra potensial dalam pengembangan NSR," kata Chekunkov dalam wawancaranya bersama kantor berita RIA Novosti, sebagaimana dikutip Antara, Selasa (1/9).
Alternatif rute perdagangan Asia-Eropa
Jalur Laut Utara merupakan koridor pelayaran strategis yang melintasi pesisir utara Rusia dan Arktik. Rute ini menawarkan jarak tempuh laut terpendek yang menghubungkan pasar Asia dan Eropa dibandingkan lintasan tradisional.
Chekunkov mencatat adanya lonjakan permintaan pelayaran di rute tersebut, baik dari operator kapal domestik Rusia maupun korporasi logistik internasional. Peningkatan minat ini didorong oleh situasi keamanan yang belum stabil di kawasan Laut Merah dan Teluk Persia, sehingga pelaku industri maritim mencari jalur alternatif yang lebih aman dan efisien.
Sejumlah negara Asia lainnya telah lebih dahulu memanfaatkan koridor kutub ini. Chekunkov mencontohkan India dan Korea Selatan yang secara aktif menjajaki potensi rute Arktik, termasuk pelayaran perdana kapal kontainer milik perusahaan asal Korea Selatan, PanStar, dari Busan menuju Rotterdam pada akhir Agustus lalu.
Forum ekonomi tahunan EEF yang menjadi ajang pembahasan rute dagang ini digelar di Vladivostok pada awal September sebagai sarana penguatan kerja sama investasi dan logistik antara Rusia dengan kawasan Asia-Pasifik.






















