BPOM hentikan peredaran dua seri susu formula Nestle terkait dugaan cemaran cereulide

BPOM menegaskan akan terus mengawal proses penarikan untuk memastikan tidak ada lagi produk terdampak yang tersisa.. Masyarakat juga diminta mengecek kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa sebelum membeli produk pangan.

By
PT Nestle Indonesia diminta menghentikan sementara peredaran produk dari dua bets susu formula bayi. / Arsip Reuters / Reuters

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia mengambil langkah pencegahan dengan menghentikan sementara distribusi dua bets susu formula bayi produksi Nestle setelah teridentifikasi potensi cemaran toksin cereulide.

BPOM menyatakan bahwa hasil pengujian laboratorium terhadap sampel dari kedua bets tersebut tidak menemukan keberadaan toksin cereulide. Meski demikian, otoritas pengawas tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dengan meminta penghentian distribusi dan importasi produk terkait.

“Berdasarkan hasil pengujian, toksin cereulide tidak terdeteksi dengan batas kuantifikasi kurang dari 0,20 mikrogram per kilogram,” demikian pernyataan resmi BPOM yang dirilis Rabu dikutip oleh TVRI.

Sebagai tindak lanjut, PT Nestle Indonesia diminta menghentikan sementara peredaran produk dari dua bets tersebut. Perusahaan juga telah melakukan penarikan produk secara sukarela dari pasar domestik.

BPOM mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, untuk segera menghentikan penggunaan susu formula dengan nomor bets yang terdampak.

Toksin cereulide diketahui dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus. Zat ini memiliki sifat tahan panas sehingga tidak dapat dihancurkan melalui proses pemanasan, termasuk penyeduhan menggunakan air mendidih.

BPOM menjelaskan bahwa paparan toksin ini dapat menimbulkan gejala dalam waktu singkat, mulai dari 30 menit hingga enam jam setelah konsumsi, dengan tanda-tanda seperti muntah berulang, diare, nyeri perut, dan kondisi tubuh yang sangat lemas.

Penarikan produk susu 

Dalam pernyataan terpisah, Nestle menyebut bahwa potensi masalah ini bersumber dari bahan baku minyak arachidonic acid (ARA) yang dipasok oleh salah satu mitra mereka.

“Keamanan pangan dan kesejahteraan bayi adalah prioritas utama kami. Isu ini teridentifikasi berasal dari bahan baku ARA yang disuplai oleh salah satu mitra,” ujar pihak Nestle dalam keterangan resminya.

Kasus ini juga terkait dengan penarikan produk susu formula Nestle di 49 negara, meskipun hingga kini belum ada laporan keracunan di Indonesia. Sementara itu, CeO Nestle Philipp Navratil menyampaikan permintaan maaf kepada konsumen atas kekhawatiran yang timbul akibat penarikan produk di berbagai negara.

“Saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas kekhawatiran dan gangguan yang mungkin dirasakan oleh para orang tua, pengasuh, dan pelanggan kami,” kata Navratil dalam video resmi perusahaan.

BPOM menegaskan akan terus mengawal proses penarikan untuk memastikan tidak ada lagi produk terdampak yang tersisa di rak penjualan maupun di tangan konsumen. Masyarakat juga diminta mengecek kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa sebelum membeli produk pangan.