Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag RI) resmi mengaktifkan kembali proses perundingan perjanjian perdagangan bilateral komprehensif dengan Kerajaan Maroko.
Pemerintah menargetkan seluruh rangkaian perundingan dagang ini dapat diselesaikan pada 2027 mendatang guna menciptakan kepastian hukum, iklim usaha yang kondusif, serta memperluas akses pasar bagi produk nasional.
Komitmen akselerasi tersebut dibahas dalam pertemuan daring antara Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, bersama Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Perdagangan Luar Negeri Kerajaan Maroko, Omar Hejira, pada Kamis (27/8).
Kedua belah pihak sepakat untuk menyusun kerangka dan jadwal kerja yang realistis, melanjutkan negosiasi berdasarkan draf naskah perjanjian yang sudah ada, serta menetapkan target ambisi akses pasar yang seimbang dan saling menguntungkan.
Dyah menegaskan kesiapan penuh Indonesia untuk merampungkan butir-butir kesepakatan dagang demi mengonversi kedekatan politik menjadi capaian ekonomi yang nyata.
"Indonesia siap bekerja sama secara konstruktif dengan Maroko untuk mengakselerasi proses perundingan ini. Momentum ini harus dilihat sebagai peluang bagi kedua negara untuk mewujudkan hubungan politik yang kuat menjadi manfaat ekonomi yang nyata dan berkelanjutan," ujar Dyah.
Pintu Masuk Pasar Strategis Kawasan Afrika
Secara geoekonomi, posisi Maroko dinilai sangat penting bagi kepentingan ekspor Indonesia. Maroko diposisikan sebagai jembatan dan pintu masuk strategis bagi arus barang nasional ke kawasan Afrika Utara, pasar Mediterania, hingga Eropa.
Sebaliknya, letak geografis Indonesia yang strategis menawarkan keuntungan bagi pelaku usaha Maroko sebagai gerbang utama penetrasi pasar Asia Tenggara dan kawasan Indo-Pasifik.
Dari sisi komoditas, Kemendag melihat potensi ekspor yang masih sangat terbuka luas di pasar Maroko, di antaranya produk minyak kelapa sawit beserta produk turunannya, produk besi dan baja setengah jadi, amonia anhidrat, serta produk udang beku.
Sementara itu, Maroko diproyeksikan sebagai mitra pasokan bahan baku strategis bagi kebutuhan industri dan ketahanan pangan nasional, khususnya pasokan pupuk dan produk olahan aluminium.
Tren Kinerja Dagang dan Usulan Satuan Tugas
Guna mengawal implementasi kesepakatan dan memantau kemajuan perundingan secara berkala, Omar Hejira mengusulkan pembentukan satuan tugas (task force) atau mekanisme kerja bersama lintas kementerian dari kedua negara.
Hubungan dagang kedua negara sendiri mencatatkan kinerja yang terus bertumbuh secara konsisten. Sepanjang 2025, total nilai perdagangan Indonesia-Maroko mencapai 235 juta dolar AS, melonjak hingga 33 persen dibandingkan pencapaian pada tahun 2024.
Dari total transaksi pada 2025 tersebut, Indonesia mencatatkan surplus neraca dagang dengan nilai ekspor mencapai 154,9 juta dolar AS, sedangkan nilai impor dari Maroko tercatat sebesar 80,1 juta dolar AS. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2021–2025), laju ekspor produk Indonesia ke Maroko mampu tumbuh dengan rata-rata 4,95 persen per tahun.
Kinerja positif tersebut terus berlanjut pada tahun ini, di mana nilai transaksi perdagangan periode Januari–Mei 2026 telah menembus angka 180 juta dolar AS atau melonjak sebesar 37 persen secara tahunan (year-on-year).
Undang Pelaku Usaha ke TEI 2026
Dalam rangkaian pertemuan bilateral tersebut, Dyah Roro Esti turut memanfaatkan kesempatan untuk mengundang delegasi pemerintah serta para pelaku bisnis Maroko berpartisipasi langsung dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026.
Ajang pameran dagang internasional dan promosi ekspor terbesar di Tanah Air tersebut dijadwalkan terselenggara pada 14–18 Oktober 2026 mendatang di kawasan ICE BSD City, Tangerang.
Pertemuan diplomasi ekonomi tingkat kementerian ini turut didampingi oleh Direktur Perundingan Bilateral Kemendag RI, Basaria Tiara Desika L Gaol.























