BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Rupiah menguat ditopang spekulasi pemangkasan agresif suku bunga The Fed pada 2026
Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Selasa pagi, seiring meningkatnya spekulasi pasar bahwa bank sentral AS akan memangkas suku bunga lebih agresif sepanjang 2026.
Rupiah menguat ditopang spekulasi pemangkasan agresif suku bunga The Fed pada 2026
Rupiah menunjukkan penguatan dengan naik 9 poin ke level Rp16.768 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.777 per dolar AS. / Reuters

Rupiah menunjukkan penguatan dengan naik 9 poin ke level Rp16.768 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.777 per dolar AS. Penguatan ini didorong perubahan ekspektasi global, di mana investor semakin yakin The Federal Reserve akan masuk ke fase pelonggaran kebijakan moneter yang lebih dalam pada 2026, mengutip RRI.

Tekanan terhadap dolar AS muncul akibat jarak antara proyeksi resmi The Fed dan ekspektasi pasar. Dalam proyeksi terbaru Federal Open Market Committee (FOMC), The Fed hanya mengisyaratkan satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026. Namun, pelaku pasar kini memperkirakan setidaknya dua kali pemotongan.

Sentimen tersebut juga diperkuat tekanan politik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang secara terbuka mendorong penurunan biaya pinjaman. Saat ini, suku bunga acuan The Fed berada di kisaran 3,5–3,75 persen setelah total pemangkasan sebesar 70 basis poin.

“Ekspektasi investor kini meningkat dua kali lipat,” ujar analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, seperti dikutip Antara.

Meski mendapat dorongan dari faktor global, laju penguatan rupiah masih tertahan oleh sejumlah sentimen domestik. Salah satunya adalah ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter di dalam negeri. Bank Indonesia diperkirakan akan mengikuti arah kebijakan dovish The Fed dengan memangkas suku bunga setidaknya dua kali pada 2026.

Kebijakan tersebut dinilai positif bagi pertumbuhan ekonomi, namun peningkatan likuiditas berpotensi memberi tekanan pada nilai tukar rupiah.

Selain itu, pasar juga mencermati kondisi fiskal pemerintah. Defisit anggaran saat ini berada di level 2,35 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Kekhawatiran muncul karena proyeksi akhir tahun menunjukkan defisit dapat melebar hingga 2,78 persen, mendekati batas maksimum 3 persen.

“Walaupun masih di bawah 3 persen, ada kekhawatiran defisit bisa lebih tinggi atau mendekati batas tersebut,” kata Lukman.

Untuk sisa perdagangan hari ini, analis memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif namun relatif stabil di kisaran Rp16.700–Rp16.800 per dolar AS. Arah pasar selanjutnya akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi Amerika Serikat, yang berpotensi memperkuat atau justru meredam ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global.

TerkaitTRT Indonesia - BI tahan suku bunga 4,75 persen, prioritaskan stabilitas rupiah
SUMBER:TRT Indonesia