Ketegangan yang dipicu oleh perang AS-Israel terhadap Iran telah memicu kekacauan perjalanan udara di Timur Tengah dan berdampak pada ribuan jemaah Umrah yang berada di Arab Saudi.
Banyak dari mereka terjebak tanpa kepastian jadwal penerbangan pulang, sementara sebagian lainnya terpaksa membatalkan rencana perjalanan ke Tanah Suci.
‘Masalah kemanusiaan dan logistik yang mendesak’
Wakil Menteri Haji dan Umrah Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan lebih dari 58.860 jemaah Indonesia masih tertahan di Arab Saudi hingga Kamis pekan lalu.
Pemerintah Indonesia kini berupaya bernegosiasi dengan otoritas Saudi dan maskapai penerbangan untuk mengurangi beban biaya tambahan yang harus ditanggung para jemaah, seperti penginapan dan tiket penerbangan.
Selain itu, pemerintah Indonesia juga mengimbau sekitar 60.000 calon jemaah lainnya untuk menunda perjalanan Umrah hingga April demi alasan keselamatan. Juru bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Ichsan Marsha, menyebut situasi ini sebagai “masalah kemanusiaan dan logistik yang mendesak.”
Beberapa jemaah yang tertahan mengaku menghadapi kesulitan finansial dan emosional akibat pembatalan penerbangan. Zanirah Faris, seorang jemaah Indonesia, mengatakan kepada iNews TV bahwa penerbangan pulangnya dibatalkan dan diganti dengan jadwal baru pada 12 Maret.
“Tidak semua orang mampu memperpanjang masa tinggal di hotel,” ujarnya. “Saya juga sedih karena anak-anak saya sudah menunggu di rumah.”
Indonesia, yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, mengirim ratusan ribu jemaah Umrah setiap tahun, terutama selama bulan suci Ramadan.
Jemaah dari seluruh dunia
Gangguan perjalanan juga berdampak pada negara lain.
Sekitar 1.600 jemaah Malaysia dilaporkan tertahan di Arab Saudi, menurut Konsul Jenderal Malaysia di Jeddah Mohamad Dzaraif Raja Abdul Kadir.
Pemerintah Malaysia membuka pusat operasi 24 jam untuk memantau situasi dan menyalurkan bantuan, sementara Malaysia Airlines untuk sementara kembali mengoperasikan penerbangan dari Jeddah dan Madinah.

Di tengah ketidakpastian ini, sebagian jemaah memilih jalur alternatif untuk pulang.
Seorang jemaah asal Mesir, Maged Kholaif, yang semula dijadwalkan kembali ke Kuwait pada hari pertama pecahnya perang, akhirnya memutuskan pulang melalui jalur darat setelah penerbangannya dibatalkan.
“Itu perasaan yang sangat sulit,” katanya. Namun setelah bertemu kembali dengan anak-anaknya di Kuwait, ia merasa lega. “Ketika anak-anak ada di depan mata dan dalam pelukan, apa pun yang terjadi setelah itu tidak lagi penting.”
‘Tetap fokus ibadah’
Situasi keamanan juga membuat sejumlah calon jemaah membatalkan rencana perjalanan mereka.
Javed Khizer, warga Michigan, Amerika Serikat, mengatakan ia dan keluarganya memutuskan membatalkan Umrah setelah melihat perkembangan situasi.
“Kami melihat berita dan menyadari situasinya semakin buruk. Itu keputusan yang sulit,” ujarnya.
Meski demikian, sebagian jemaah yang sudah berada di Arab Saudi tetap berusaha fokus menjalankan ibadah.
Majid Mughal, jemaah asal Amerika Serikat, mengatakan keluarganya masih merasa aman selama berada di sana.
“Sejauh ini semuanya baik, syukurlah. Kami mencoba fokus pada ibadah puasa, salat, dan kebersamaan keluarga,” katanya, seraya menambahkan bahwa mereka tetap memantau status penerbangan setiap hari untuk memastikan perjalanan pulang tidak terganggu.













