Indonesia dan AS capai kesepakatan substansi perundingan dagang resiprokal
Pemerintah menargetkan penandatanganan resmi ART dilakukan sebelum akhir Januari 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih.
Indonesia dan Amerika Serikat mencapai kemajuan penting dalam hubungan dagang bilateral setelah menyepakati seluruh substansi utama Agreements on Reciprocal Trade (ART). Kesepakatan ini dicapai usai pertemuan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer di Washington DC, pada hari Senin.
Pertemuan tersebut digelar sebagai tindak lanjut mandat Presiden Prabowo Subianto kepada Menko Airlangga untuk mempercepat finalisasi dokumen ART. Proses perundingan sendiri telah berlangsung sejak April 2025, menyusul kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan Washington pada awal April tahun ini.
“Prinsip utamanya adalah keseimbangan. Indonesia menyampaikan isu-isu yang menjadi kepentingan nasional, dan di sisi lain kami juga mendengarkan kebutuhan Amerika Serikat. Dari situ dicari titik temu,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi dari Washington.
Kebijakan tarif resiprokal
Pemerintah Indonesia mencatat, sejak pengumuman kebijakan tarif resiprokal AS pada 2 April 2025, komunikasi dan negosiasi dengan otoritas AS dilakukan secara intensif. Pada bulan Juli, kedua negara menerbitkan Joint Statement yang memangkas tarif bagi Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen.
Dalam kerangka perjanjian tersebut, Indonesia menyatakan kesediaan membuka akses pasar bagi produk Amerika Serikat, mengatasi hambatan non-tarif, serta memperkuat kerja sama di bidang perdagangan digital, teknologi, keamanan nasional, dan hubungan komersial.
Amerika Serikat sepakat memberikan pengecualian tarif untuk sejumlah komoditas unggulan Indonesia yang tidak diproduksi secara signifikan di Amerika, antara lain minyak kelapa sawit, kakao, kopi, dan teh.
USTR Jamieson Greer menyambut positif hasil pertemuan tersebut. Dalam kerangka kesepakatan yang diumumkan Juli lalu, Indonesia juga berkomitmen meningkatkan impor dari Amerika Serikat, termasuk di sektor energi, pertanian, dan pesawat terbang, dengan nilai mencapai miliaran dolar.
Nilai perdagangan bilateral
Berdasarkan data USTR, defisit perdagangan barang Amerika Serikat dengan Indonesia mencapai $17,9 miliar pada 2024, meningkat 5,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, data Indonesia menunjukkan nilai perdagangan bilateral Januari–Oktober 2025 mencapai $36,2 miliar, dengan surplus Indonesia sebesar $14,9 miliar. Amerika Serikat menjadi pasar ekspor terbesar kedua bagi Indonesia.
Airlangga juga menyangkal kekhawatiran bahwa perjanjian ini akan membatasi kebijakan dagang Indonesia dengan negara lain. “Tidak ada ketentuan yang menghalangi Indonesia menjalin kerja sama dagang dengan pihak lain. ART bersifat komersial dan strategis, serta dirancang untuk saling menguntungkan secara seimbang,” tegasnya.
Kedua negara dijadwalkan kembali bertemu pada pekan kedua Januari 2026 di Washington DC untuk melakukan legal scrubbing dan perapihan akhir dokumen, dengan target penandatanganan resmi ART sebelum akhir Januari 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih.