Konsentrasi pasokan mineral kritis yang hanya dapat ditemukan di segelintir negara—termasuk Indonesia sebagai pemasok utama nikel—kian memicu kekhawatiran global.
Türkiye memperingatkan kondisi ini, ditambah proteksionisme perdagangan, berisiko terhadap stabilitas ekonomi dunia. Dalam Forum Mineral Kritis OECD di Istanbul, Selasa, Menteri Perdagangan Türkiye Omer Bolat menyebut ekonomi global semakin terfragmentasi, ditandai intervensi negara, pembatasan ekspor, dan “weaponisasi” rantai pasok.
“Ketegangan geopolitik semakin kompleks dan persisten, sementara konflik regional mengganggu jalur perdagangan dan mendorong biaya,” ujarnya dalam forum tersebut.
Mineral kritis menjadi tulang punggung teknologi modern, dari baterai kendaraan listrik hingga kecerdasan buatan. Permintaan litium bahkan melonjak empat kali lipat dalam satu dekade terakhir.

Produksi yang terkonsentrasi menciptakan kerentanan, kata Omer Bolat, sekitar 75% kobalt berasal dari Republik Demokratik Kongo, sementara lebih dari dua pertiga nikel dipasok Indonesia dan Filipina.
Bolat menilai ketergantungan ini berisiko memperdalam ketimpangan, terutama jika negara produsen hanya bertumpu pada ekstraksi tanpa transfer teknologi. “Apakah tata kelola rantai pasok global akan memperdalam ketidakseimbangan yang ada,” katanya.
Dalam pidatonya, Omer menjelaskan bahwa Türkiye mendorong diversifikasi produksi, penguatan teknologi pemurnian, serta investasi ekonomi sirkular seperti daur ulang dan inovasi baterai.
Negara kaya sumber daya, termasuk Indonesia, juga didorong memperoleh nilai tambah lebih besar. Bolat menegaskan perlunya kerja sama global dan sistem peringatan dini untuk mencegah krisis rantai pasok.













