Indonesia dan Filipina memperkuat kemitraan strategis di sektor mineral kritis melalui pembentukan ‘Indonesia-Philippines Nickel Corridor’, inisiatif yang ditujukan untuk mengintegrasikan rantai pasok nikel regional sekaligus memperkokoh posisi kedua negara dalam industri global.
Kesepakatan itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) di Cebu, Filipina.
Penandatanganan tersebut disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina A. Roque di sela rangkaian The 27th Meeting of the ASEAN Economic Community (AEC) Council and Related Meetings.
Kerja sama itu diumumkan dalam forum Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable yang berlangsung di Jpark Island Resort, Cebu, pada Kamis (7/5), bertepatan dengan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Filipina untuk menghadiri KTT ASEAN ke-48.
Airlangga menyebut kemitraan tersebut sebagai langkah strategis untuk membangun poros industri nikel regional yang saling terhubung antara sektor hulu Filipina dan industri hilirisasi Indonesia.
“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” ujar Airlangga.
Ekosistem hilirisasi mineral
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina secara gabungan menguasai sekitar 73,6 persen produksi nikel dunia pada 2025. Indonesia menghasilkan sekitar 2,6 juta ton atau setara 66,7 persen produksi global, sementara Filipina menyumbang sekitar 270 ribu ton atau 6,9 persen.
Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki sekitar 62 juta ton nikel atau 44,5 persen cadangan dunia, sedangkan Filipina diperkirakan menyimpan sekitar 4,8 juta ton atau 3,4 persen.
Nota kesepahaman APNI dan PNIA mencakup berbagai bidang kerja sama strategis, mulai dari pertukaran data untuk stabilisasi perdagangan nikel regional dan global, pengembangan teknologi hilirisasi, pemanfaatan produk sampingan industri pengolahan, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor nikel.
Indonesia saat ini terus memperluas ekosistem hilirisasi mineral. Pada 2025, nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia mencapai sekitar $9,73 miliar.
Pemerintah juga menargetkan investasi sektor hilirisasi mencapai $47,36 miliar pada 2030 dengan potensi penyerapan tenaga kerja hingga 180.600 orang.
Rencana pembangunan fasilitas pengolahan nikel di Filipina juga diperkenalkan melalui kerja sama Agro Investama Group bersama RBN Solutions Inc. dan Ploutus Inc. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai memasok sedikitnya 200 ribu ton nikel per bulan pada Juni 2026 untuk mendukung rantai pasok baterai dan kendaraan listrik.



















