Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI resmi memperkuat sinergi dengan pemerintah Australia untuk menghadapi ancaman terorisme berbasis digital yang kian canggih. Fokus utama kolaborasi ini adalah menangkal penggunaan teknologi deepfake dan memutus rantai pendanaan melalui aset kripto.
Dalam pertemuan bilateral yang berlangsung pada Minggu (12/4), kedua negara menyoroti bagaimana kelompok ekstremis kini mulai beradaptasi dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat proses radikalisasi, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.
Ancaman AI dan narasi digital
Sekretaris Utama BNPT RI, Bangbang Surono, mengungkapkan bahwa pola rekrutmen terorisme telah bergeser ke ruang siber secara masif. Penggunaan teknologi deepfake—yang mampu memanipulasi wajah dan suara—dinilai menjadi ancaman baru dalam penyebaran propaganda yang sulit dibedakan dari informasi asli.
"Peningkatan radikalisasi daring terjadi pada anak dan remaja serta pemanfaatan teknologi digital untuk propaganda," ujar Bangbang.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan Australia, Gemma Huggins, menekankan pentingnya literasi media sebagai benteng pertahanan pertama. Pendekatan yang dikembangkan saat ini mencakup tiga langkah strategis: penghapusan konten radikal, penyediaan kontra-narasi yang kuat, dan penguatan literasi digital bagi masyarakat secara berkelanjutan.
Memutus aliran dana virtual
Selain ancaman propaganda, pertemuan ini juga membahas celah keamanan dalam sistem keuangan digital. Kelompok teror diketahui mulai memanfaatkan aset virtual dan teknologi keuangan (fintech) untuk membiayai operasional mereka agar terhindar dari pantauan otoritas keuangan konvensional.
Kedua negara berkomitmen untuk: Memperketat pengawasan transaksi aset kripto yang dicurigai terkait aktivitas terorisme, Meningkatkan pertukaran informasi intelijen siber antar-agensi keamanan serta Mengembangkan standar keamanan dalam penggunaan teknologi finansial di kawasan.
Solidaritas keamanan kawasan
Di sela perbincangan teknis, Indonesia juga menyampaikan simpati mendalam atas insiden tragis yang baru-baru ini terjadi di Pantai Bondi, Australia. Pesan solidaritas ini mempertegas komitmen bersama bahwa stabilitas kawasan hanya bisa dicapai melalui kolaborasi erat antarnegara.
Ancaman terorisme dinilai masih persisten namun telah berubah bentuk menjadi lebih cair di dunia maya. Dengan sinergi ini, diharapkan penetrasi ideologi ekstremis yang memanfaatkan celah teknologi dapat ditekan demi melindungi stabilitas regional Indo-Pasifik.






