BISNIS DAN TEKNOLOGI
3 menit membaca
Kenaikan suku bunga BI sukses pikat dana asing hingga Rp147 triliun
Bank Indonesia mencatat arus modal asing senilai 9 miliar dolar AS masuk ke instrumen SRBI dan SBN sepanjang tahun ini, didorong oleh kebijakan kenaikan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas rupiah.
Kenaikan suku bunga BI sukses pikat dana asing hingga Rp147 triliun
BI menegaskan kebijakan ini dirancang agar meningkatkan daya tarik imbal hasil untuk mendorong masuknya arus modal asing. / Dok. Bank Indonesia

Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang agresif dalam menaikkan suku bunga acuan terbukti ampuh menarik minat investor global. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa aliran modal asing (foreign inflow) senilai total 9 miliar dolar AS (sekitar Rp147,6 triliun) telah mengalir masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD).

Dalam konferensi pers bersama pimpinan DPR RI di Jakarta pada Senin kemarin, Destry menjelaskan bahwa momentum masuknya modal asing ini mengalami percepatan yang sangat signifikan sepanjang periode Januari hingga 26 Juni, dengan lonjakan tertinggi terjadi sepanjang bulan Juni.

"Terjadi arus masuk yang cukup signifikan selama bulan Juni," ujar Destry. "Secara year-to-date... aliran modal yang masuk ke portofolio SBN dan SRBI kita telah mencapai sekitar 9 miliar dolar AS."

Langkah BI menaikkan suku bunga acuan secara akumulatif sebesar 100 basis poin pada Mei dan Juni hingga mencapai level 5,75 persen menjadi faktor utama di balik fenomena ini. Kebijakan pengetatan moneter tersebut memicu penyesuaian harga aset pendapatan tetap di dalam negeri. Hasilnya, selisih imbal hasil (yield differential) investasi di Indonesia menjadi lebih melebar dan menarik bagi investor global, di tengah kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve AS yang bertahan lebih lama (high-for-longer).

Destry menegaskan bahwa keputusan menaikkan suku bunga merupakan langkah stabilisasi jangka pendek yang krusial. Kebijakan ini diambil untuk membentengi mata uang rupiah dari volatilitas tinggi sekaligus melindungi ekosistem keuangan domestik dari ketidakpastian makroekonomi global.

"Kepercayaan dari investor asing ini, pada gilirannya, tentu akan tecermin juga pada meningkatnya kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap perekonomian kita," tambah Destry.

Menjaga Likuiditas Pasar

Guna mengantisipasi risiko kekeringan likuiditas di pasar uang dan valuta asing pasca-kenaikan suku bunga, bank sentral bergerak cepat dengan memperluas suntikan operasi moneter neto. Jumlah suntikan dana ditingkatkan menjadi sekitar Rp1.000 triliun pada akhir Juni, melonjak tajam dari posisi bulan sebelumnya yang berada di angka Rp600 triliun.

Berdasarkan data resmi Bank Indonesia per 15 Juni, manajer dana asing tercatat memegang instrumen SRBI sebesar Rp238,09 triliun. Angka ini setara dengan 23,3 persen dari total keseluruhan nilai penerbitan (outstanding) SRBI yang mencapai Rp1.021,13 triliun.

Daya tarik investasi ini juga tecermin dalam lelang utama yang digelar pada 26 Juni lalu. Rata-rata tertimbang imbal hasil yang dimenangkan investor untuk instrumen SRBI berada di level yang cukup kompetitif, yakni sebesar 7,36 persen untuk tenor 6 bulan, 7,54 persen untuk tenor 9 bulan, dan 7,70 persen untuk tenor acuan 12 bulan.

TerkaitTRT Indonesia - Suku bunga naik 5,5 persen, BI jelaskan ke investor global
SUMBER:TRT Indonesia