Perjanjian ICA-CEPA buka akses pasar Kanada, dorong pertumbuhan hijau

Sektor hilirisasi pertanian Indonesia juga mendapat perhatian dari investor Kanada, sejalan dengan komitmen negara tersebut dalam mendukung pertumbuhan ekonomi hijau dan berkelanjutan.

By
Prabowo bertemu PM Kanada Mark Carney di Ottawa pada 24 September 2025. / BPMI Sekretariat Presiden

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong sektor pertanian menjadi penggerak utama dalam penguatan hubungan ekonomi Indonesia–Kanada melalui skema Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA).

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pertanian, Devi Erna Rachmawati, menyatakan peluang peningkatan ekspor komoditas pertanian ke Kanada masih sangat terbuka, meskipun Indonesia saat ini juga mengimpor pupuk dari negara tersebut.

“Kami melihat peluang ekspor pertanian cukup besar, terutama untuk produk pangan tropis, yang sebagian sudah masuk ke pasar Kanada,” ujar Devi di sela Konferensi Canada in Asia Conference (CIAC) 2026 di Singapura, pada Selasa, dikutip Antara.

Ia menjelaskan, Kadin telah menyiapkan sejumlah strategi untuk memaksimalkan implementasi ICA-CEPA, antara lain melalui program pendampingan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat masuk pasar Kanada.

Selain itu, Kadin memfasilitasi pertemuan bisnis antara pelaku usaha kedua negara serta mempromosikan produk Indonesia melalui berbagai pameran dagang internasional.

Sektor hilirisasi pertanian Indonesia juga mendapat perhatian dari investor Kanada, sejalan dengan komitmen negara tersebut dalam mendukung pertumbuhan ekonomi hijau dan berkelanjutan.

ICA-CEPA sendiri merupakan perjanjian ekonomi komprehensif pertama Indonesia dengan negara di Amerika Utara. Negosiasi dimulai pada 21 Juni 2021, selesai pada November 2024, dan ditandatangani pada 24 September 2025.

Dari sisi perdagangan, data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekspor Indonesia ke Kanada pada 2024 mencapai 2,134 miliar dolar AS, namun masih mencatat defisit sebesar 693 juta dolar AS. Produk ekspor utama mencakup karet alam, suku cadang kendaraan, kakao, dan mesin, sementara impor didominasi gandum, pupuk kimia, pulp kayu, kedelai, dan logam mulia.