Malaysia kecam Israel usai penutupan Masjid Al-Aqsa selama Ramadan, desak tekanan internasional
Pemerintah Malaysia menyampaikan kecaman keras terhadap Israel dan mendesak tekanan internasional atas apa yang mereka sebut ‘Pembatasan diskriminatif dan sewenang-wenang’ terhadap pembatasan akses ke Al-Aqsa.
Malaysia mengecam keras kebijakan Israel yang terus membatasi akses umat Muslim ke kompleks Masjid Al-Aqsa selama bulan suci Ramadan. Kuala Lumpur menilai langkah tersebut melanggar hukum internasional sekaligus memperburuk ketegangan di wilayah Palestina yang diduduki.
Dalam pernyataan resmi pada Kamis (12/03), Kementerian Luar Negeri Malaysia menyebut pembatasan akses menuju Kota Tua Yerusalem dan tempat-tempat ibadah sebagai tindakan diskriminatif yang tidak dapat dibenarkan.
“Pembatasan diskriminatif dan sewenang-wenang terhadap akses ke Kota Tua Yerusalem dan tempat-tempat ibadah merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional, serta terhadap status quo historis dan hukum yang mengatur situs-situs suci di Yerusalem,” kata kementerian tersebut.
Menurut pemerintah Malaysia, kebijakan tersebut berpotensi memicu kemarahan umat Muslim dan memperparah ketegangan di wilayah Palestina yang berada di bawah pendudukan.
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa Israel tidak memiliki klaim atas situs suci di Yerusalem Timur yang diduduki, termasuk lokasi-lokasi keagamaan bagi umat Muslim maupun Kristen. Malaysia menekankan bahwa seluruh kompleks Masjid Al-Aqsa merupakan tempat ibadah yang diperuntukkan bagi umat Islam.
Selain itu, Malaysia menegaskan bahwa pengelolaan dan pengaturan akses ke kawasan suci tersebut sepenuhnya berada di bawah kewenangan Kementerian Wakaf, Urusan Islam, dan Tempat-Tempat Suci Yordania sebagai otoritas sah.
Sehari sebelumnya, delapan negara — Indonesia, Türkiye, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab — juga menyampaikan kecaman dalam pernyataan gabungan terhadap otoritas pendudukan Israel atas penutupan gerbang Masjid Al-Aqsa bagi jamaah Muslim, khususnya selama Ramadan.
Kuala Lumpur turut menyerukan kepada komunitas internasional untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel agar menghentikan apa yang disebutnya sebagai pelanggaran berkelanjutan serta praktik ilegal terhadap situs-situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem.