Indonesia dan Laos menegaskan komitmen memperkuat kemitraan strategis menjelang 70 tahun hubungan diplomatik pada 2027, dalam pertemuan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dengan Wakil PM sekaligus Menlu Laos, Thongsavan Phomvihane, di Jakarta, Selasa (5/5).
Pembahasan mencakup kerja sama ekonomi, keamanan, dan politik, dengan penekanan pada pemanfaatan momentum peringatan tersebut untuk langkah yang lebih konkret.
“Tahun depan hubungan kita memasuki usia ke-70, dan itu perlu diisi dengan agenda yang lebih strategis, terutama di bidang ekonomi,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta.
Di sektor ekonomi, nilai perdagangan kedua negara masih relatif kecil, sekitar 83,8 juta dolar AS per tahun, dengan defisit Indonesia mencapai 57 juta dolar AS. Kondisi ini dipengaruhi tingginya impor potas dari Laos sebagai bahan baku pupuk.
Sebagai tindak lanjut, Indonesia mendorong investasi industri pupuk di Laos melalui PT Pupuk Indonesia. “Pemerintah berniat melakukan investasi di Laos, khususnya di sektor pupuk,” kata Anis.
Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma’ruf menambahkan, langkah ini juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan regional. “Wapres meminta penjajakan hilirisasi pupuk guna mendukung kedaulatan pangan Indonesia dan Asia Tenggara,” ujarnya.
“Potensi kerja sama dengan Laos masih jauh lebih besar dibandingkan realisasinya,” kata Anis.
Selain itu, Gibran bersama Thongsavan juga membahas penguatan kerja sama dalam penanganan kejahatan penipuan daring atau scam yang melibatkan jaringan lintas negara.
Anis mengatakan isu ini menjadi perhatian serius kedua pihak. Menurutnya, peningkatan kerja sama intelijen dan keamanan dinilai penting karena masih banyak warga negara Indonesia yang terlibat dalam kasus serupa di Laos.
“Selain Kamboja, ada Laos yang juga banyak WNI yang terlibat di dalam kasus ini sehingga pengembangan kerja sama ini dalam kerja sama intelijen dan keamanan ini sangat penting untuk kita tingkatkan,” ucapnya.
















