Freeport-McMoRan menegaskan kembali bahwa operasi pemulihan tambang raksasa Grasberg di Indonesia berjalan lebih lama dari perkiraan sebelumnya, meski perusahaan masih menargetkan aktivitas produksi dapat kembali mendekati level penuh pada akhir 2027.
CEO PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menjelaskan bahwa proses pemulihan berjalan lebih lambat dari perkiraan akibat kondisi material bijih yang lebih basah dari prediksi awal.
“Kami menemukan bahwa material di GBC kini memiliki kandungan air lebih tinggi akibat insiden tersebut, sehingga perlu penyesuaian pada sistem pengangkutan,” ujarnya dalam wawancara dengan Reuters di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa modifikasi infrastruktur menjadi langkah penting untuk menjamin keselamatan jangka panjang operasi.
Menurut Wenas, fasilitas Grasberg saat ini beroperasi sekitar 50 persen dari kapasitasnya, dengan target peningkatan menjadi 65 persen pada akhir tahun ini. Ia memperkirakan fase menuju kapasitas penuh akan dimulai pada paruh kedua tahun depan.
Produksi tembaga diproyeksikan mencapai sekitar 1,2 miliar pound pada 2027, sementara emas diperkirakan menyentuh 1 juta ons. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi 2026 yang berada di level 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ons emas.
Perusahaan juga menegaskan rencana investasi jangka panjang sekitar $20 miliar untuk pengembangan lanjutan setelah 2041, saat izin tambang saat ini berakhir. Kesepakatan perpanjangan izin telah dibahas dalam pertemuan tingkat tinggi di Washington, yang juga melibatkan transfer tambahan kepemilikan kepada pemerintah Indonesia.
Di sisi lain, Freeport menyoroti meningkatnya permintaan tembaga global yang didorong oleh perkembangan infrastruktur kecerdasan buatan dan kebutuhan energi baru. Namun perusahaan juga mengakui tantangan keamanan yang masih berlangsung di wilayah Papua, setelah beberapa insiden kekerasan terhadap pekerja dalam beberapa tahun terakhir.
Tambang Grasberg yang merupakan salah satu kompleks tembaga terbesar di dunia sekaligus tambang emas terbesar sempat terhenti setelah insiden longsor pada September 2025 yang menewaskan tujuh pekerja dan menghentikan operasi selama hampir satu bulan.








