IKLIM
3 menit membaca
Mengapa Indonesia menjadi negara dengan gunung berapi aktif terbanyak di dunia
Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menegaskan tingginya risiko bencana vulkanik bagi Indonesia yang berada tepat di lintasan lingkar gunung berapi Pasifik.
Mengapa Indonesia menjadi negara dengan gunung berapi aktif terbanyak di dunia
Gunung Krakatau di Selat Sunda mengeluarkan asap dan abu vulkanik saat erupsi. / AFP

Rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau baru-baru ini melumpuhkan aktivitas penerbangan nasional dan berdampak langsung pada lebih dari 270.000 penumpang. Peristiwa ini kembali menegaskan ancaman nyata bencana geologis yang senantiasa mengintai Indonesia, sebuah negara kepulauan yang berdiri di atas jalur rawan gempa dan gunung berapi paling aktif di dunia.

Terletak di atas pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, Indonesia berada tepat di lintasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Kondisi geografis ini menjadikannya negara dengan gunung berapi aktif terbanyak di planet ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Indonesia memiliki sekitar 500 gunung berapi yang tersebar dari Sumatra hingga Maluku. Dari total tersebut, sebanyak 127 di antaranya tergolong sebagai gunung berapi aktif. Untuk mengantisipasi risiko erupsi mendadak, pemerintah melalui pos pengamatan khusus memantau ketat 69 gunung berapi aktif selama 24 jam penuh.

Menurut catatan Global Volcanism Program milik Smithsonian Institution yang berbasis di Washington, Indonesia mengungguli Amerika Serikat dan Jepang dalam daftar negara pemiliki gunung berapi aktif terbanyak di dunia.

Lima gunung berapi berstatus Siaga

Saat ini, otoritas pemantauan geologi menetapkan lima gunung berapi di Indonesia berada pada status Waspada hingga Siaga (Level III). Kelima gunung berapi tersebut meliputi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, Gunung Merapi di perbatasan D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah, Gunung Semeru di Jawa Timur, serta Gunung Sinabung di Sumatra Utara.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada satu pun gunung berapi di tanah air yang dinaikkan ke tingkat ancaman tertinggi atau status Awas (Level IV). Di saat bersamaan, Gunung Semeru di Jawa Timur sempat mencatatkan erupsi kecil dengan menyemburkan abu setinggi satu kilometer dari puncaknya, namun kejadian ini tidak sampai memicu evakuasi warga maupun gangguan penerbangan.

TerkaitTRT Indonesia - 4 gunung api erupsi bersamaan di Indonesia

Dampak erupsi Krakatau terhadap jalur penerbangan

Erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau dinilai menjadi salah satu yang terparah dalam hal sebaran abu vulkanik. Gunung yang berada di Selat Sunda tersebut memuntahkan kolom abu hingga ketinggian 15.240 meter atau 50.000 kaki ke udara. Material vulkanik tertiup angin hingga sejauh 400 kilometer dan menjangkau wilayah DKI Jakarta yang berjarak sekitar 150 kilometer dari pusat erupsi.

Sebaran abu tersebut memberikan dampak signifikan terhadap operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten. Gangguan jadwal penerbangan yang terjadi kali ini tercatat sebagai salah satu yang terlama dan terluas dampaknya bagi penerbangan nasional dalam beberapa tahun terakhir.

Jejak sejarah dan memori kelam Krakatau

Meski melumpuhkan transportasi udara, erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa. Penanganan bencana dan respons cepat dari otoritas setempat berhasil meminimalisasi risiko pada masyarakat di kawasan pesisir.

Kondisi ini sangat berbeda dengan tragedi memilukan pada 2018 lalu. Kala itu, erosi lereng dan erupsi Anak Krakatau memicu longsoran bawah laut yang menghasilkan gelombang tsunami di Selat Sunda, menewaskan lebih dari 400 jiwa di pesisir Banten dan Lampung.

Anak Krakatau sendiri lahir dari sisa-sisa letusan dahsyat induknya, Gunung Krakatau, pada tahun 1883. Erupsi katastropik kala itu memicu tsunami global dan perubahan iklim dunia, serta menelan lebih dari 36.000 korban jiwa. Kerawanan sejarah inilah yang membuat pemantauan terhadap aktivitas vulkanik di Selat Sunda terus menjadi prioritas utama mitigasi bencana di Indonesia.

SUMBER:TRT Indonesia & Agensi