IKLIM
2 menit membaca
BMKG: Musim kemarau diprediksi lebih awal dan panjang pada 2026
BMKG juga memperingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan selama puncak kemarau, terutama di daerah rawan api.
BMKG: Musim kemarau diprediksi lebih awal dan panjang pada 2026
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan air, kebakaran hutan, dan dampak kekeringan. / Reuters

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan sebagian besar wilayah Indonesia akan menghadapi musim kemarau 2026 lebih awal dan lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya, dengan puncak diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan di berbagai daerah, terutama yang menjadi sentra produksi pangan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan peralihan dari Angin Baratan (Monsun Asia) ke Angin Timuran (Monsun Australia) menandai dimulainya kemarau. “Musim kemarau akan mulai masuk April 2026 di 114 Zona Musim, mencakup pesisir utara Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian Kalimantan dan Sulawesi,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, pada Rabu.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci bahwa 184 ZOM BMKG memproyeksikan puncak kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah Indonesia. 

Faisal menekankan pentingnya langkah antisipasi dari pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat. Di sektor pertanian, petani dianjurkan menyesuaikan jadwal tanam, memilih varietas tahan kekeringan, hemat air, dan memiliki siklus panen lebih singkat. 

BMKG juga memperingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama puncak kemarau, terutama di daerah rawan api. Pemerintah daerah diminta menyiapkan mekanisme respons cepat untuk menjaga kualitas udara dan kesiapsiagaan sektor kehutanan.

“Informasi prediksi ini adalah bentuk peringatan dini yang harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata oleh pemangku kepentingan untuk meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” ungkap Faisal.

Dengan kondisi ini, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan air, kebakaran hutan, dan dampak kekeringan agar potensi bencana dapat diminimalkan.

TerkaitTRT Indonesia - BMKG deteksi 160 titik panas, Riau waspada karhutla
SUMBER:TRT Indonesia
Jelajahi
Kabut asap pekat lumpuhkan penerbangan di Riau dan picu udara tidak sehat di Malaysia
Imbas kabut asap Indonesia, Singapura jadi kota paling berpolusi di dunia
Gempa magnitudo 5,2 guncang Lombok Barat, BMKG sebut akibat deformasi batuan
Walhi dan Greenpeace ingatkan Indonesia tetap waspada karhutla meski titik panas turun
Kabut asap karhutla Indonesia selimuti Malaysia dan Singapura, kualitas udara di level tidak sehat
Polusi PM2.5 tinggi, kualitas udara Jakarta terburuk keempat di dunia
Ahli: Indonesia punya peluang besar di COP31 Antalya, Türkiye
Air Waduk Karian surut, Desa Somang yang terendam kembali terlihat
Hujan turun, warga Pontianak bernapas lega lepas dari kabut asap karhutla
Musim kemarau picu kekeringan, warga dan lahan pertanian di Bekasi terdampak
Gunung Semeru erupsi enam kali, kolom abu capai 900 meter
AQI Jakarta capai 159, kebakaran hutan Indonesia perburuk kualitas udara di Asia Tenggara
BMKG perkirakan musim hujan di Indonesia mundur ke awal November akibat El Nino
Banjir bandang terjang Solok, satu orang dilaporkan hilang
Karhutla Indonesia berpotensi berlanjut hingga awal November – Kemenhut
BNPB siapkan 3 ton garam untuk operasi modifikasi cuaca atasi karhutla dan kabut asap di Kaltim
Kebakaran hutan terburuk dalam 11 tahun perparah krisis ISPA di Kalimantan
BPBD catat 2.676 karhutla di Sumsel hingga September, 15 daerah masuk zona merah
AQI Jakarta capai 158, kualitas udara masuk empat terburuk dunia
Pemantauan kabut asap tunjukkan dampak karhutla Indonesia di Asia Tenggara