Rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Jumat (11/9), sementara harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) meningkat menjadi $89,43 per barel pada Agustus 2026 di tengah meningkatnya risiko geopolitik dan kekhawatiran gangguan pasokan global.
Rupiah berada di level Rp17.585 per dolar AS, melemah 38 poin atau 0,22 persen dari penutupan sebelumnya di Rp17.547.
Kenaikan harga minyak turut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi pelebaran twin deficits, yakni defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal. Sentimen terhadap rupiah juga dipengaruhi data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat yang naik menjadi 5,4 persen secara tahunan pada Agustus dari 4,8 persen pada bulan sebelumnya, melampaui perkiraan 5,3 persen.
Data tersebut memperkuat ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve. Probabilitas kenaikan suku bunga dalam FOMC September 2026 meningkat di atas 70 persen, sementara indeks dolar AS dan imbal hasil UST ikut terdorong naik.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat ICP Agustus naik $7,75 per barel dari $81,68 pada Juli menjadi $89,43. Harga tersebut ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 352.K/MG.03/MEM.M/2026.
Dampak ketegangan di Timur Tengah
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan kenaikan ICP dipengaruhi kondisi pasar global, terutama risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan di jalur strategis.
Kenaikan ICP sejalan dengan harga minyak internasional. Brent naik dari $83,97 menjadi $88,08 per barel, WTI dari $79,22 menjadi $82,45, sementara Dated Brent meningkat dari $83,41 menjadi $90,84. Ketegangan di Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas kilang, turut meningkatkan kekhawatiran pasar.
"Berbagai ketegangan di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas kilang, telah memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak dunia," kata Laode.
Memasuki September, ICP diperkirakan tetap berada di kisaran $83-$87 per barel. Pemerintah mengaitkan proyeksi tersebut dengan risiko pasokan di Selat Hormuz dan potensi penurunan cadangan minyak Amerika Serikat.
ESDM menyatakan akan terus memantau pasar global dan mempertahankan formula ICP yang transparan untuk mendukung ketahanan energi serta akuntabilitas pengelolaan sektor hulu migas.

















