Peluru yang menewaskan Nemesio “El Mencho” Oseguera Cervantes pada suatu pagi di bulan Februari di Tapalpa, Jalisco, bukan hanya mengakhiri hidup buronan nomor satu Meksiko.
Peluru itu juga membuka rahasia lama yang telah terkubur selama puluhan tahun—sebuah jejak yang membentang dari kamp-kamp pelatihan terik di wilayah barat Meksiko hingga lorong-lorong kekuasaan di Tel Aviv.
El Mencho, 59 tahun, tewas pada 22 Februari 2026 ketika pasukan khusus Meksiko, dengan dukungan intelijen Amerika Serikat, menggempur markas persembunyiannya. Empat anak buahnya turut tewas dalam operasi tersebut.
Pemerintahan Trump menyebutnya sebagai “perkembangan besar.” Namun di jalanan Meksiko, banyak yang melihatnya sebagai awal dari sesuatu yang jauh lebih buruk.
Dalam hitungan jam, blokade menutup jalan-jalan tol. Kendaraan dibakar. Suara tembakan menggema di sejumlah negara bagian.
Kerajaan kriminal yang dibangun dengan pola asing
El Mencho tidak membangun CJNG — Kartel Jalisco Generasi Baru — hanya dengan kekerasan semata.
Mantan polisi yang memahami cara kerja mesin negara itu mengubah kelompok pecahan kecil dari Kartel Milenio menjadi imperium perdagangan narkoba global, dengan metamfetamin dan fentanil mengalir sebagai urat nadinya, serta presisi paramiliter menggerakkan operasinya.
Yang membedakan CJNG bukan sekadar kebrutalannya. Melainkan kecanggihannya.
Operasi CJNG menunjukkan presisi ala militer: penggunaan drone, penyergapan terkoordinasi, hingga mundur taktis.
Para ahli menilai kemampuan ini berasal dari kombinasi rekrutan internal dari angkatan bersenjata Meksiko dan dugaan instruktur asing.
Pertanyaan yang selama bertahun-tahun menghantui para penyidik sederhana saja: di mana mereka belajar bertempur seperti ini?
Dugaan koneksi Israel?
Tuduhan keterlibatan pihak asing dalam pelatihan kartel sesekali mengarah pada warga negara Israel, meski dalam konteks CJNG sebagian besar masih bersifat anekdotal.
Seorang mantan agen DEA (Badan Pemberantasan Narkoba AS), yang dikutip dalam investigasi tahun 2017, mengaku mendengar adanya individu dari Israel yang bertemu anggota CJNG untuk memberikan pelatihan penembak jitu dan instruksi taktis.
Agen tersebut mencatat bahwa sejumlah metode yang diamati tampak lebih maju secara teknis dibanding taktik kartel Meksiko pada umumnya saat itu—menyebutnya sebagai “penggunaan kekuatan secara teknis yang belum pernah Anda lihat pada kartel Meksiko.”
Klaim seperti ini mengingatkan pada skandal terdokumentasi di wilayah lain Amerika Latin.
Pada 1989, kontroversi mencuat di Kolombia ketika mantan kolonel tentara Israel, Yair Klein, diduga melatih unit paramiliter yang terkait dengan Kartel Medellin, termasuk teknik pembunuhan.
The New York Times saat itu melaporkan bahwa pemerintah Israel berupaya menjaga jarak dari tindakan tentara bayaran swasta yang diduga terlibat dengan regu pembunuh pengedar narkoba di Amerika Selatan.
Pada 1991, penyelidikan Senat AS menyimpulkan bahwa komando militer Israel yang telah pensiun membuat Kartel Medellin “secara signifikan lebih berbahaya” dengan menularkan “teknik yang berpotensi mematikan.”
The Los Angeles Times mengulas temuan tersebut secara rinci.
Laporan Senat AS juga menelusuri pendanaan senjata dari Israel Military Industries hingga transfer dana sebesar US$98.131,50 pada November 1988 dari rekening bank di Panama, yang dialirkan melalui Philadelphia International Bank dan Manufacturers Hanover Trust, dan akhirnya mencapai Bank Hapoalim serta Israel Military Industries.
Kasus-kasus historis tersebut melibatkan individu swasta atau perwira purnawirawan di Kolombia pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, bukan keterlibatan langsung negara atau kaitan dengan kartel Meksiko seperti CJNG beberapa dekade kemudian.
Pejabat Israel secara konsisten membantah memiliki peran dalam melatih atau mendukung kelompok kriminal di Meksiko.
Sejauh ini, tidak ada investigasi besar atau laporan terbaru pasca kematian El Mencho yang membuktikan adanya koneksi Israel yang berkelanjutan atau langsung dengan operasi CJNG.

Di dalam kamp pelatihan
Kesaksian saksi dan laporan investigatif menggambarkan kamp pelatihan CJNG sebagai sistem yang sangat terstruktur, memadukan keahlian domestik dan dugaan keahlian asing.
Namun sebagian besar kemampuan paramiliter kartel ini berasal dari rekrutan dengan latar belakang militer atau kepolisian Meksiko.
Dalam wawancara tahun 2019 dengan Telemundo (yang juga diliput oleh Insight Crime), seorang mantan rekrutan CJNG yang dikenal sebagai “Francisco” mengaku menghabiskan tiga bulan di kamp pelatihan di Talpa de Allende, Jalisco.
Ia menuduh para instruktur terdiri dari beragam latar belakang: veteran operasi khusus, Kaibiles Guatemala (yang dikenal dengan pelatihan brutal dan reputasinya di Amerika Tengah), warga Kolombia, serta beberapa warga negara Israel.
Para rekrutan disebut mempelajari penanganan senjata, posisi menembak, taktik penyergapan, dan perang gerilya sebelum diterjunkan.
Klaim tersebut, yang bersumber dari satu saksi terlindungi, belum terverifikasi oleh sumber independen.
Pelaporan yang lebih luas tentang CJNG sering menyoroti peran sentral pembelot militer Meksiko dari unit elite (termasuk mantan pasukan khusus yang dilatih secara domestik atau melalui program internasional dengan mitra seperti Israel), yang membawa pengetahuan taktis dan melatih anggota lain dari dalam.
Senjata api yang disita dari operasi CJNG menceritakan kisah yang terkait namun berbeda. Antara 2006 hingga 2018, Israel menjual lebih dari 24.000 senjata dan senapan ke Meksiko. Penyelidik mencatat bahwa sebagian senjata tersebut diduga telah dialihkan ke tangan kriminal.
Israel secara resmi membantah keterlibatan langsung dalam pelatihan kartel. Menanggapi kekerasan pasca kematian El Mencho, Kementerian Luar Negeri Israel mengeluarkan imbauan standar agar warga Israel di Meksiko menghindari perjalanan non-esensial ke Jalisco dan mengikuti arahan otoritas setempat.
Perang yang tak berakhir meski pemimpinnya tewas
El Mencho telah mati. CJNG belum.
Para ahli memperingatkan bahwa fragmentasi kartel—yang hampir pasti terjadi akibat kekosongan kekuasaan setelah kematiannya—kemungkinan besar akan memicu lebih banyak kekerasan, bukan sebaliknya, ketika faksi-faksi bertempur memperebutkan wilayah dan supremasi.
Kartel Meksiko давно tidak lagi sekadar jaringan perdagangan narkoba yang berorientasi keuntungan dalam arti konvensional. Mereka adalah kekuatan teritorial yang termiliterisasi. Mereka menguasai wilayah luas negara itu. Mereka menggunakan drone, alat peledak rakitan, dan kendaraan lapis baja.
Kartel-kartel ini lebih sering bertempur satu sama lain daripada melawan negara. Mereka beroperasi, seperti dicatat para analis, bukan lagi sekadar organisasi kriminal, melainkan menyerupai pasukan pemberontak dalam konflik internal yang permanen.
Pejabat AS, yang aparat intelijennya membantu memungkinkan penggerebekan di Jalisco, berbicara tentang kerja sama bilateral. Sementara itu, pejabat Israel memilih bungkam.
Pertanyaan-pertanyaan itu, seperti yang kerap terjadi dalam perang narkoba panjang dan berdarah di Meksiko, tetap tak terjawab.
Arsitektur penuh keterlibatan internasional dalam kebangkitan CJNG mungkin tak akan pernah sepenuhnya terpetakan.
Namun di antara puing-puing kematian El Mencho—blokade jalan yang terbakar, pembatalan penerbangan, dan rentetan tembakan di Jalisco—bayangan sesuatu yang lebih besar dan lebih mengkhawatirkan terlihat jelas.
Keahlian asing, kata para penyidik, turut membangun mesin ini. Seberapa besar yang masih tersisa, dan siapa yang masih memasoknya, adalah pertanyaan yang hingga kini belum mampu dijawab otoritas.













