Pemerintah optimistis ekonomi Indonesia terus menguat pada 2026 didukung inflasi yang terkendali, pemulihan sektor manufaktur, dan kinerja perdagangan yang membaik. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan stabilitas harga, ketahanan pangan, dan energi menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat serta meningkatkan kepercayaan dunia usaha.
“Pemerintah optimistis ekonomi Indonesia dapat tumbuh berkelanjutan dengan dukungan inflasi yang terkendali, ekspansi manufaktur, dan neraca perdagangan yang lebih kuat,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi.
Inflasi Juli 2026 tercatat 2,88 persen secara tahunan, turun dari 3,34 persen pada Juni. Sementara itu, PMI manufaktur kembali memasuki fase ekspansi dengan angka 50,2, menunjukkan adanya pemulihan aktivitas industri nasional.
Indonesia juga mencatat surplus perdagangan sebesar $3,58 miliar sepanjang Januari-Juni 2026. Pemerintah menilai capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global, meski tekanan eksternal masih perlu diwaspadai.
Upaya menjaga stabilitas harga dilakukan melalui kerja sama pemerintah pusat, Bank Indonesia, dan pemerintah daerah. Langkah tersebut mencakup penguatan cadangan pangan, distribusi beras, serta koordinasi pasokan antarwilayah untuk mengendalikan inflasi.
Di sektor produksi, pemerintah mempercepat peningkatan produktivitas pertanian melalui rehabilitasi irigasi, distribusi pupuk dan benih, mekanisasi, serta dukungan pembiayaan bagi pelaku usaha melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Usaha Pertanian (KUP).
Pemerintah juga memperkuat ketahanan energi melalui peningkatan produksi minyak dan gas, pengembangan energi terbarukan, penerapan biodiesel B50, serta hilirisasi sumber daya alam. Kebijakan tersebut diharapkan menjaga daya saing industri sekaligus mengurangi tekanan dari kenaikan harga global.




















