BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Ekspor Indonesia naik 4,13 persen, lonjakan nikel perkuat industri pengolahan
BPS melaporkan industri pengolahan menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekspor. Selama enam bulan pertama 2026, ekspor sektor tersebut meningkat 7,37 persen, terutama didorong oleh kenaikan ekspor nikel.
Ekspor Indonesia naik 4,13 persen, lonjakan nikel perkuat industri pengolahan
Ekspor nonmigas ke 13 negara dan kawasan tujuan utama mencapai $95,82 miliar, naik 8,33 persen dibandingkan tahun sebelumnya. / Arsip Reuters

Nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai $140,81 miliar, meningkat 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, impor tumbuh lebih cepat, yakni 18,69 persen menjadi $137,24 miliar, sehingga surplus neraca perdagangan pada semester pertama 2026 tercatat sebesar $3,58 miliar. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengatakan capaian tersebut menunjukkan ekspor Indonesia masih mencatat pertumbuhan pada paruh pertama 2026.

"Selama Januari–Juni 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai $140,81 miliar atau meningkat 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025," ujar Ateng.

Menurut data BPS, kinerja ekspor didorong oleh sektor nonmigas yang meningkat 4,90 persen menjadi $134,58 miliar. Pada Juni, nilai ekspor tercatat $25,46 miliar, naik 8,84 persen secara tahunan, sementara ekspor nonmigas bertambah 9,46 persen menjadi $24,39 miliar.

BPS menyebut industri pengolahan menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekspor. Selama enam bulan pertama 2026, ekspor sektor tersebut meningkat 7,37 persen, terutama didorong oleh kenaikan ekspor nikel. Sebaliknya, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 22,55 persen akibat melemahnya ekspor kopi, sedangkan sektor pertambangan dan lainnya terkoreksi karena penurunan ekspor bijih tembaga.

TerkaitTRT Indonesia - Harga nikel naik di tengah penurunan output industri di Indonesia

Dominasi ekspor nonmigas

Dilihat berdasarkan komoditas, ekspor nonmigas masih ditopang oleh produk berbasis minyak sawit beserta turunannya serta batu bara. Sementara itu, pasar China tetap menjadi tujuan utama ekspor Indonesia dengan nilai mencapai $34,56 miliar atau 25,68 persen dari total ekspor nonmigas sepanjang Januari–Juni 2026.

Komoditas utama yang dikirim ke China meliputi besi dan baja, nikel beserta produk turunannya, serta bahan bakar mineral. Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan nilai ekspor $15,82 miliar atau 11,76 persen, didominasi mesin dan peralatan listrik, alas kaki, serta pakaian jadi.

Sementara India menempati posisi ketiga dengan nilai $9,25 miliar atau 6,87 persen, terutama untuk ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani maupun nabati, serta mesin listrik.

Ekspor nonmigas ke 13 negara dan kawasan tujuan utama mencapai $95,82 miliar, naik 8,33 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan terbesar berasal dari China, Amerika Serikat, dan Thailand. Sebaliknya, ekspor ke Singapura, Jerman, dan Australia mengalami penurunan. Selama periode yang sama, ekspor ke kawasan ASEAN meningkat 4,55 persen, sedangkan ekspor ke Uni Eropa bertambah 1,23 persen.

Pada semester pertama 2026, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar $3,58 miliar, didorong surplus sektor nonmigas yang mengimbangi defisit perdagangan migas.

TerkaitTRT Indonesia - Perdagangan defisit $450 juta, tekanan eksternal masih membayangi ekonomi Indonesia
SUMBER:TRT Indonesia